Thursday, May 16, 2013

Ingin Tinggi? Perbanyak Makan Protein, bukan Karbohidrat





Sedari kecil saya makan nasinya tak terlalu banyak. Juga waktu masih kos dulu hingga sampai sekarang kalau sedang makan di warung saya porsi nasinya selalu separuh, termasuk saat buka puasa. Karena kalau full porsi memang tak bisa masuk di perut saya. Kalau bulan puasa yang jaga warung biasanya terheran-heran, karena buka puasa kok nasinya tetap porsi separuh. Padahal kalau orang lain kan rata-rata pada kalap kalau sedang buka puasa. Tapi kalau saya kok tetap kalem minta porsi separuh saja. Tak beda dengan hari biasa.  

Bila saja semua orang Indonesia segitu porsinya, maka kita tak lagi impor beras, malah bisa ekspor beras. Selama ini kan orang-orang kalau di warung rata-rata makannya "porsi buto" semua. (buto = raksasa, bhs. Jawa). Saya kadang heran melihat mereka. Kok bisa nasi sebanyak itu masuk perut. Sebanyak itu tiga kali sehari pula!! Very extreme. Pantas kita impor beras terus.

Berat badan saya normal saja, tidak lantas kurus kering gara-gara tiap hari porsi makannya cuma separuh piring. Berkisar antara 60 kg s/d 65 kg. Tergantung sering nyemil atau tidak. Kalau pas jarang makan camilan, jajan bakso, mie ayam dan lain-lain ya cuma 60 saja. Kalau lagi sering jajan bisa naik sampai 65 kg. Normal saja, bukan? Sedang-sedang saja. Tidak lalu kurus kering seperti orang Somalia. :D Kalau orang yang makan nasinya banyak, lalu dia sering jajan juga, wah dijamin badannya akan menggelendung tambun seperti bola.

Apakah porsi separuh piring itu berpengaruh ke pertumbuhan badan? Sepertinya tidak. Tinggi badan saya normal saja, sekitar 170 cm, walau sedari kecil porsi makan segitu. Karena tinggi badan memang lebih dipengaruhi konsumsi protein, bukan karbohidrat. Kalau karbohidrat pengaruhnya melebar ke samping, bukan tinggi ke atas. Coba lihat, generasi yang lahir tahun 1950-an kalau makan porsi nasinya banyak, tapi tinggi badan mereka rata-rata cuma 160 cm saja. Generasi 1940-an, termasuk orang tua saya juga tingginya cuma segitu. Karena saat itu belum ada peternakan ayam pedaging, ayam petelor dan sumber protein lainnya. Jarang dan mahal. Beda dengan generasi selanjutnya yang tersedia banyak makanan berprotein. Bahkan, kalau generasi yang lahir tahun 1990-an tingginya banyak yang sekitar 175 cm.

Seingat saya telur dan daging ayam harganya baru murah pada tahun 1985-an. Untunglah saat itu saya masih masa pertumbuhan sehingga sempat banyak makan protein untuk tumbuh ke atas juga. Kalau tahun 1970-an orang makan telur sering cuma 1/4 butir saja. Masih mahal. Makan telur satu butir adalah suatu kemewahan. Beda jauh dengan sekarang, orang bisa sampai bosan makan telur dan daging ayam. Karena sekarang banyak orang beternak ayam petelur dan ayam pedaging sehingga murah harganya. Yang tetap mahal dari dulu sampai sekarang adalah daging sapi. Mungkin karena di Indonesia jarang padang rumput yang luas sehingga jarang juga orang beternak sapi.

Porsi nasi buto bangsa kita agaknya antara lain dipengaruhi sikap para orang tua yang keliru, yang ingin anaknya makan nasi sebanyak-banyaknya, sumber makanan karbohidrat. Padahal percuma makan nasi banyak kalau asupan protein kurang. Besarnya cuma ke samping, bukan ke atas.  Jadi, yang paling penting adalah nutrisi yang berimbang.

Karena sejak kecil disuruh makan porsi nasi buto, maka terbawa jadi kebiasaan sampai dewasa, orang-orang Indonesia akhirnya menjadi buto yang rakus nasi semua. Padahal itu tidak perlu, bahkan terlalu banyak makan karbohidrat justru bisa menghambat pertumbuhan tinggi badan. Karbohidrat itu kan di dalam tubuh diubah menjadi zat gula (glukosa). Nah, kadar gula yang tinggi di dalam tubuh secara otomatis membuat tubuh menghasilkan insulin yang lebih banyak juga. Insulin ini bisa menghambat produksi hormon pertumbuhan. Lihat link artikel pada bagian paling bawah dari tulisan ini. Atau boleh juga Anda browsing sendiri.

Jadi, pemahaman para orang tua untuk menganjurkan banyak makan nasi kepada anak-anaknya perlu diubah. Tak perlu memaksa anak-anak anda jadi buto lagi. Malah menghambat pertumbuhan tinggi badan. Tentu jangan lantas berhenti mengkonsumsi nasi sama sekali karena tetap perlu juga untuk pasokan energi, yang penting adalah porsinya jangan overdosis. Karbohidrat porsi sedang saja sudah cukup. Berilah mereka nutrisi yang berimbang.

Nah, masih berminat makan nasi porsi buto? Stop jadi buto yang rakus nasi, malah bikin orang jadi pendek bin gembrot.  Secukupnya saja. Lalu ditambah protein secukupnya juga. Segala hal yang berlebihan atau kekurangan tidak baik akibatnya. Yang sedang-sedang sajalah.

Baca Juga:
1. Cara Alami Menambah Tinggi Badan. Lihat di artikel ini, terutama nomor yang terakhir
2. Cara Cepat Menambah Tinggi Badan. Lihat terutama yang nomor 4.

19 Sep 2012