Wednesday, May 8, 2013

Kesenjangan Sosial Penyebab SARA ?

Oleh: Helmi Junaidi





Boleh saya bertanya sedikit? Bukan SARA tapi fakta. 1. Bisakah orang pribumi menjadi eksekutif dan direktur di perusahaan-perusahaan milik pengusaha Cina?  2. Apakah gaji pegawai pribumi dan cina sama di perusahaan-perusahaan tersebut untuk jabatan dengan level yang sama?

Well, sedihnya jawaban untuk kedua hal diatas adalah tidak. Pegawai pribumi takkan pernah bisa menjadi direktur dan gaji mereka juga lebih rendah. Ada diskriminasi jabatan dan gaji terhadap pegawai pribumi. Boleh cek. Jadi, saudara-saudara, diskriminasi memang dilakukan oleh kedua pihak. Orang-orang Cina bukan selalu jadi korban disini, tapi juga menjadi pelaku yang antusias. Saya bahkan pernah membaca di koran bahwa di lingkungan pergaulan sesama Cina, mereka juga umumnya memberi julukan-julukan yang buruk untuk menyebut pribumi, termasuk dengan julukan beragam hewan di bonbin. Etnis Cina juga umumnya menganggap pribumi sebagai manusia yang lebih rendah derajatnya. Ini perilaku yang umum dan merata. Betul bukan?  Jadi, penghentian diskriminasi memang harus dilakukan kedua pihak, bukan cuma sepihak. Karena pelakunya memang kedua pihak.

Penyebab hal ini sejarahnya bisa dirunut hingga zaman Belanda yang menempatkan pribumi di strata paling rendah. Warga kelas satu adalah orang Eropa. Warga kelas dua adalah etnis Cina. Pribumi kelas terakhir. Begitu pembagian kelas oleh Belanda. Dan sikap merendahkan pribumi tersebut ternyata masih bertahan hingga kini. Secara umum tentu saja. Kalau secara khusus sikap orang bisa berbeda-beda. Ada juga yang sudah membaur dan menganggap sederajat. Saya tidak bicara SARA, tapi fakta yang ada di masyarakat memang begitu. Jadi, bila ingin memperbaiki, maka harus dilakukan kedua pihak, tidak sepihak
   
Keadaan ini bisa berbeda-beda pada suatu daerah. Kalau di Yogya umumnya sudah membaur. Entah bagaimana sejarahnya. Hampir tak ada perbedaan pri dan non pri di Yogya. Apakah karena Yogya bukan kota industri, tak ada hubungan majikan vs buruh sehingga pembauran bisa terjadi dengan mudah setelah Belanda pergi? Atau karena faktor-faktor lain? Tapi, memang tak ada perusahaan-perusahaan besar milik pengusaha Cina di Yogya. Toko-toko juga umumnya dimiliki pribumi. Sangat berbeda dengan daerah-daerah lain, termasuk Jakarta dan Malang.

Jadi, kemungkinan besar karena adanya hubungan majikan versus buruh yang membuat hubungan tetap buruk di hampir semua daerah lainnya.  Kita tahu, walau sesama kulit putih pun, hubungan majikan vs buruh selalu buruk. Termasuk di Amerika dan Eropa. Kemungkinan besar hal itu yang membuat kondisi di Yogya berbeda dengan daerah-daerah lain, karena faktor sosial  dan ekonomi pri dan non pri di Yogya yang tak jauh berbeda. Sialnya, kebijakan pemerintah Orba hingga pemerintahan yang sekarang bukannya memperbaiki kesenjangan tersebut, malah semakin memperparahnya. Akibatnya hubungan pri dan non pri pun tetap buruk atau malah semakin buruk. Inilah yang mesti kita perbaiki dengan memperhatikan akar permasalahannya.

13 Sep 2012