Monday, April 15, 2013

Harga: Pulang Kampung


Oleh: Helmi Junaidi




           
Sekitar setahun yang lalu ada teman saya yang bermaksud menjual televisinya. Maklumlah, harga kebutuhan makin meningkat saja sedangkan penghasilannya tetap setia jalan di tempat sehingga sesekali ia merasa perlu juga untuk melego satu dua barang. Indikator mikro peningkatan ini bisa kita lihat dari harga pecel lele yang semakin meningkat tajam selama tiga tahun ini. Dulu cukup sekitar Rp. 900 plus Rp. 100 kita sudah bisa makan kenyang lengkap dengan es teh atau es jeruk. Kini harus keluar Rp 3.000 untuk hal yang sama. Demikian juga harga siomai, soto atau bakso. Semuanya meningkat rata-rata tiga kali lipat. Saya memang tak begitu tahu harga sembako sebab memang jarang beli sembako. Tapi, harga makanan jadi tersebut tentunya bisa mencerminkan harga bahan mentahnya.

Ia kemudian mengiklankan televisinya di sebuah surat kabar yang ada di Yogya. Ia bermaksud menjualnya dengan harga yang miring sebab ia memang sedang butuh uang. Tetapi, untuk lebih meyakinkan calon pembeli bahwa harganya cukup murah dan asli tangan pertama, bukan makelar, maka ia kemudian ada ide yang cukup nyleneh juga. Ia tidak mengawali iklannya dengan kata “dijual murah”, “harga bersaing”, “butuh uang” atau semacamnya, tetapi mengawalinya dengan kata ”pulang kampung”.  Supaya disangka sebagai mahasiswa yang mau pulang kampung dan sedang “cuci gudang” yang biasanya tentu harganya cukup murah. Tentu, ia tak bermaksud pulang kampung sungguhan sebab ia bekerja di Yogya. Dalam iklan itu ia sama sekali tidak menulis kata “dijual” . Toh, orang sudah paham juga.

Karena lokasi rumahnya yang di daerah kabupaten dan agak susah bagi calon pembeli untuk mencarinya ia kemudian menitipkannya di rumah saya. Dan ide tersebut agaknya cukup jitu juga.  Baru siangnya pergi ke kantor koran untuk pasang iklan, esok harinya sekitar pukul setengah enam pagi ada orang yang mengetuk pintu rumah saya. Aneh, saya pikir, siapa yang hendak bertamu sepagi ini. Ternyata yang datang adalah calon pembeli. Penawaran berlangsung cepat sebab harganya memang cukup murah dan kondisinya masih bagus. Sebentar kemudian, ia sudah pamit pulang sambil memboyong barangnya.

Ketika teman saya datang jam tujuh pagi untuk mengecek televisinya, ia sangat terheran-heran dan terkejut ketika saya balik menyodorkan uang hasil penjualan. Ia setengah tidak percaya dan menyangka kalau saya beli sendiri. Kemudian ia balik pulang sambil mengantongi uangnya setelah memberi saya sedikit komisi. Jadinya saya deh yang menjadi  makelar.  Hahahaha... Sampai siangnya masih banyak calon pembeli yang berdatangan sampai saya capek melayaninya. Untunglah tadi diberi uang komisi, lumayan untuk makan siang sebagai penghilang capek. Celakanya, ada juga di antara mereka yang dengan santainya menanyakan apakah masih ada teman saya yang mau pulang kampung lagi. Kalau ada tolong nanti diberitahu. Untung saya tidak kelepasan tertawa. Tidak tahu dia kalau sedang diapusi. Agaknya, orang tak begitu tertarik dengan barang yang dijual dengan “harga murah”, tetapi lebih tertarik dengan “harga pulang kampung”. 


Yogyakarta, 2001