Tuesday, February 18, 2014

Marxisme dan Problem Kurangnya Kreatifitas


Oleh: Helmi Junaidi 


Kamerad Stalin sukses "membebaskan" jutaan manusia di Gulag Archipelago


Opera Tan Malaka dan Nostalgia Perang Dingin. <== Agaknya saya terpaksa masih sering share artikel ini karena hingga saat ini saya memang masih sering membaca, baik di twit dalam negeri atau luar negeri, bahwa orang-orang yang akunnya berisi twit anti kapitalis mesti dia menunjuk marxisme sebagai alternatif. Seolah-olah otak mereka sudah buntu dan cuma bisa menggumam: Kalau tidak kapitalis wajib marxis. Kalau tidak marxis wajib kapitalis. 

Padahal, kita semua sudah tahu dengan sangat jelas apa yg terjadi di Rusia, Eropa Timur, Korea Utara, Kamboja, China zaman Mao dan sebagainya. Bahagiakah dan makmurkah rakyat di bawah Marxisme? Jawabannya adalah NO! Tak pernah ada cerita rakyat bahagia di bawah Marxisme. Yang bahagia di tiap negara Marxis hanyalah para psikopat tukang jagal manusia. Perkecualian hanya terdapat di sebagian negara Amerika Latin walau tidak makmur benar juga, masih tetap tergolong negara miskin. Tapi, kalau yang di Asia, Eropa dan Afrika kaum Marxis hanyalah penebar teror dan jagal manusia. Tak ada itu persamaan ekonomi bahkan pada masa kejayaan Uni Sovyet. Yang terkenal adalah satu satire dalam karya Orwell Animal Farm bahwa “All animals are equal, but some animals are more equal than others.” Yang termasuk di antara more equal ini tentu para pejabat politbiro dan militer. Sudah pernah baca Animal Farm, belum? Kalau belum silakan baca.

Komunisme di Rusia dan Eropa Timur sudah ambruk karena diberontak rakyatnya sendiri yang sudah sangat muak dengan kebengisan diktator proletariat. Andai di Cina juga diadakan pemilu dijamin partai komunis langsung ambruk, apalagi di Korea Utara, orang akan lebih memilih menyanyi gangnam style ketimbang menonton wajah gendut si culas Kim. Tak pernah ada sama rata, eh yang ada malah kebengisan penguasa yang bisa menimpa siapa saja.



Derita para budak di ladang perbudakan Gulag, Rusia

Jadi, problemnya di sini adalah kenapa harus tetap ngotot untuk suatu ideologi yang jelas-jelas telah terbukti gagal? Aneh. Tak bisakah Anda sekalian membuat ideologi baru yang lebih baik dari Marxisme? Ini agaknya menunjukkan rendahnya daya kreatifitas orang-orang tersebut. Orang yang kreatif bila melihat sesuatu yang gagal akan berusaha memperbaiki atau mencari alternatif lain yang lebih baik. Tidak akan begitu saja mengikut sesuatu yang sudah gagal. Sebaliknya, orang-orang tidak kreatif akan tetap membebek ideologi ciptaan orang lain, bahkan bila pun idelogi tersebut telah terbukti gagal. Sad. :(

Contoh dalam soal lain. Kadang kita mendengar ada produk handphone seri tertentu yang disebut produk gagal. Apakah lalu diteruskan produksinya? Tidak! Pabrik akan segera menghentikan produksi seri tersebut. Gagal kok terus saja diproduksi. Aneh. Tak bakal laku di pasaran. Yang dilakukan pabrik tentu akan berusaha membuat produk seri lain yang lebih bagus. Nah, kenapa dalam soal Marxisme ini masih banyak sekali orang yang menggemari produk gagal? Tidak logis. Tidak bisakah Anda membuat ideologi lain yang lebih baik dan akhirnya menjadi produk ideologi yang sukses? Yakni yang bisa membahagiakan dan memakmurkan umat manusia.

Ada produk gagal, segera buang dan buat yang lain. Buatlah dan ciptakan alternatif lain yang lebih baik. Lha sudah gagal kok masih pingin produksi terus. Orang-orang
tidak kreatif. Bahkan banyak diantaranya anak-anak muda juga. Anak muda tidak kreatif. Bukan di Indonesia saja lho itu. Saya menulis soal ini juga gara-gara tadi melihat banyak akun twitter bahasa Inggris yang masih pro Marxisme. Kreatif itu tak hanya berarti menciptakan barang baru, tapi menciptakan pemikiran dan ideologi baru yang lebih baik dari yang sudah ada juga bisa dibilang kreatif.

Bagaimana dengan Pancasila? Well, secara teoritis sebenarnya Pancasila bagus juga, tetapi secara praktis Pancasila di sini tak pernah ada, yang ada kapitalisme. Bahkan yang terjadi secara praktis di Indonesia sejak era Orde Baru adalah kapitalisme versi ekstrim, karena memang lebih ekstrim daripada yang terjadi di Amerika dan Eropa Barat. Berapa lebar gap kaya miskin di Indonesia dibandingkan dengan gap yang ada di Amerika dan Eropa Barat?

Bila pun kita tak perlu membuat ideologi baru, sebenarnya ide Bung Hatta yang mendukung koperasi bisa kita pakai juga sebagai alternatif praktek kapitalisme Suharto yang tetap berjaya dengan ekstrimnya hingga saat ini. Ekonomi koperasi selama  ini tak pernah diperhatikan di Indonesia. Para kapitalis tentu tak mau peduli, sedang para Marxis menganggapnya kurang keren karena tak mengandung kata-kata yang gagah. Tapi, sebetulnya sistem koperasi lebih hebat ketimbang Marxisme yang berisi banyak gembar-gembor kosong. Terdengar gagah, tapi kosong isinya. Dan kalau dipraktekkan yang tercipta biasanya adalah kemelaratan massal dan pembantaian massal. Cina pun baru bisa makmur setelah secara praktis membuang komunisme. Yang ada di Cina sekarang memang secara praktis adalah diktator kapitalisme, bukan diktator proletar lagi. Mimpi di siang bolong kalau
masih ada yang menganggap Cina mempraktekkan Marxisme. Dan sialnya, sebagaimana yang terjadi di tiap negara kapitalis, gap kaya miskin di Cina pun menjadi makin lebar sekarang.

Oke, selanjutnya silakan membaca artikel ini:

Di bawah arus rasionalisasi subsidi dan independensi perbankan ternyata koperasi mampu menyumbang sepertiga pasar kredit mikro di tanah air. Bahkan koperasi masih mampu menjangkau pelayanan kepada lebih dari 11 juta nasabah, jauh diatas kemampuan kepiawaian perbankan yang megah sekalipun. Namun demikian karakter koperasi Indonesia yang kecil-kecil dan tidak bersatu dalam suatu sistem koperasi menjadikannya tidak terlihat perannya yang begitu nyata.  

Itu adalah adalah kutipan dari salah satu artikel di atas. Saya kira itu bisa kita kembangkan lebih lanjut. Bisa juga dengan modifikasi disana sini bila diperlukan sehingga bisa lebih berkembang dan makin berperanan dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Ketimbang ribut dengan Marxisme memang lebih baik kita kembangkan ekonomi koperasi saja. Prinsip ekonomi yang damai dan nyata hasilnya walau tanpa jargon-jargon heboh seperti Marxisme. Ada dua unsur yang sangat berbahaya di dalam Marxisme, yakni kekerasan dan kediktatoran. Sudah menjadi doktrinnya. Marxisme takkan pernah bisa menciptakan kebahagiaan dan kemakmuran bagi umat manusia. Cuma hebat di jargon, hasilnya sebaliknya. Sangat mengerikan.

Silakan baca juga artikel di bawah, tentang koperasi Mondragon di Basque yang bisa juga besar dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan kapitalis umumnya:

1. Mondragon | Democracy At Work
2. The Mondragon Cooperative Experience: Humanity at Work

Koperasi bisa menjadi perusahaan besar juga, bukan? Asal dikelola dan dikembangkan dengan baik. Dan saya kira masih ada contoh koperasi-koperasi yang lain lagi. Bisa menjadi alternatif selain komunisme dan kapitalisme. Tak usah kita fanatik kepada ideologi ini atau itu, apalagi yang sudah terbukti gagal menyejahterakan umat manusia.
 
Jakarta, 9 -10 Feb 2014