Thursday, February 6, 2014

Syiah dan Sunni, Mazhab Politik dalam Islam

Oleh: Helmi Junaidi


Muazin sedang mengumandangkan azan di Iran

 

Saya beri judul seperti di atas karena selama ini banyak orang yang keliru bahwa di dalam Islam juga pernah ada perang agama seperti di Eropa. Di dalam sejarah Islam tak pernah ada perang agama. Tak ada, kecuali perselisihan soal-soal fiqih dan filsafat, tapi tak sampai menimbulkan perang besar seperti yang terjadi di Eropa. Perpecahan Islam menjadi dua sekte besar, yaitu Syiah dan Sunni, juga bukan bermula soal agama, tapi soal politik. Gara-gara rebutan kursi khalifah.  Perseteruan soal kursi saja. Akan tetapi, masing-masing pihak yang berseteru lalu membawa dalil-dalil agama untuk membenarkan pendirian politik masing-masing, bahkan kadang mengarang hadits palsu. Walhasil, hal yang semula murni perselisihan politik akhirnya menjadi tercampur aduk dengan soal agama. Memang pada saat ini terutama dianggap sebagai mazhab agama, tapi sebenarnya bukan. Soal agama pada mulanya tidak ada sama sekali. Karena persoalan utamanya ya cuma itu, rebutan jabatan khalifah. Murni soal politik. 

Pada zaman fitnah setelah terbunuhnya Khalifah Usman di tangan pemberontak, umat Islam terbagi atas tiga golongan,  yaitu Syiah Ali, pendukung Muawiyah dan kaum Khawarij. Andai saja Anda hidup pada masa itu akan mendukung siapakah Anda? Mendukung Ali, Khawarij atau Muawiyah? Ada yang berminat mendukung Khawarij dan Muawiyah? Go to Hell !!  Bila hidup pada masa itu saya pribadi jelas akan mendukung Ali. Nah, Syiah masa kini itu adalah sisa-sisa pendukung Ali. Pendukung yang sangat fanatik, hardliner Ali istilahnya sehingga akhirnya sampai berlebihan dan suka mencaci-maki sahabat yang lain dan memuja Ali secara terlalu berlebihan pula. Sikap berlebihan ini yang salah. Akan tetapi, pada zaman fitnah setelah wafatnya Khalifah Usman, maka Syiah Ali ini adalah pihak yang paling bisa mewakili umat Islam. Bukan Khawarij, apalagi Muawiyah yang ambisius. Kalau saat ini, karena terlalu fanatiknya Syiah  kepada Ali memang banyak sudah berbagai hal yang terlalu berlebihan dalam ajaran Syiah. Walau demikian umat Syiah tetap mengucapkan syahadat dan semua hal yang diwajibkan dalam Islam. Syiah Itsna Asya'ariyah yang di Iran dan Irak yang saya maksudkan. Bukan yang di Syria yang memang jelas musyrik karena menuhankan Ali. 

Awal mulanya terbentuknya Syiah itu memang dari sengketa politik. Bukan karena perselisihan agama seperti Katolik vs Protestan di Eropa. Juga sekarang ini. Karena soal politik juga. Permusuhan sengit antara Sunni vs Syiah pada zaman modern ini pun baru bermula pada tahun 1980an, yakni setelah terjadinya Revolusi Iran. Karena soal politik juga. Saat itu rezim monarki di negara-negara teluk sangat ketakutan dengan ide ekspor revolusi dari Khomeini. Khomeini sangat anti monarki dan bermaksud mengekspor revolusi ke semua negara monarki di Teluk dan menumbangkannya. Ini terutama karena anggapan Khomeini bahwa Saudi cs itu hanyalah boneka Barat. Tak jauh beda dengan Syah Iran.

Isu ekspor revolusi Iran menjadi trending topik pada masa itu. Banyak dibahas dimana-mana. Amerika dan Eropa Barat juga turut resah karenanya. Saat itu rencana Khomeini adalah menumbangkan Saddam Hussein dan mendirikan republik Islam di Irak. Dan selanjutnya tentu merambah ke semua negara Arab, termasuk yang di Teluk. Asli isu politik, bukan? Tapi, akhirnya diberi bumbu agama. Menghadapi ancaman ekspor revolusi Iran itu kerajaan-kerajaan Arab di teluk segera membuat mesin propaganda anti Syiah dengan biaya jutaan dollar, antara lain melalui buku-buku anti Syiah yang lalu disebarkan ke seluruh negara Islam sejak era 1980an itu. Termasuk ke Indonesia. Buku-buku yang isinya mengkafirkan Syiah dan sebagainya.

Bermula soal politik juga. Sebelumnya hubungan Syiah-Sunni baik-baik saja. Sialnya, banyak generasi sekarang yang tak tahu sejarahnya. Generasi yang terlanjur termakan propaganda politik Saudi dan kawan-kawan yang mencampuradukkan propaganda politik dengan isu agama. Bahkan sebagian generasi yang lebih tua juga ikut termakan propaganda negara-negara monarki tersebut. Akhirnya hubungan Syiah dan Sunni menjadi memanas. Sejarahnya bermula saat Perang Teluk I itu, Iran vs Irak. Dan akhirnya terus berlanjut.

Pada era 1980-an itu, trend umat Islam di seluruh dunia, baik yang Syiah maupun Sunni adalah pro Iran, termasuk di Indonesia. Bahkan juga dalam soal busana. Jilbab yang ada di Indonesia ini adalah pengaruh revolusi Iran. Jilbab baru ada tahun 1980an. Banyak yang tak tahu sejarah jilbab ini, bukan? Hehehe... Silakan lihat beberapa capture twit di bawah. Itu hasil search twitter dengan kata kunci "revolusi Iran jilbab".





Supaya lebih yakin, silakan Anda cari juga sumber lainnya di internet dengan kata kunci yang sama. Mesti hasilnya juga sama, bahwa jilbab itu memang terinspirasi oleh revolusi di Iran. Oleh karena itu, Suharto dkk pada masa itu juga sangat ketakutan dengan jilbab karena merupakan salah satu simbol revolusi Islam Iran. Dilarang bukan terutama karena soal busananya itu sendiri, tapi karena dianggap sebagai simbol revolusi Islam. Coba tanya juga Kang Jalal. Saya tak tahu persis sejak kapan Kang Jalal masuk Syiah, tetapi kemungkinan besar baru tahun 1980an. Trend umat Islam di seluruh dunia saat itu, baik yang Sunni maupun Syiah, memang pro Iran yang menganut Syiah itu. Pada masa itu memang tak ada permusuhan Sunni vs Syiah, yang ada adalah perseteruan antara Republikan anti Barat vs Monarki pro Barat.

Setelah berakhirnya perang Teluk, permusuhan Iran vs Saudi cs tetap berlanjut. Propaganda anti Syiah dan mengkafirkan Syiah jalan terus. Pada akhirnya
propaganda lewat buku-buku dan berbagai media lainnya yang berbiaya jutaan petrodolar tersebut berhasil mempengaruhi banyak generasi muda Islam.  Mereka terpengaruh menjadi anti Syiah. Saya tak tahu peran Amerika disini. Mungkin saja saat itu ikut terlibat karena Amerika sejak dulu anti Iran juga. Walau saya kira sekarang tidak.

Jadi, cukup jelas bukan? Bahwa permusuhan Sunni vs Syiah yang ada saat ini juga bermula dari soal politik. Bukan soal agama. Dulu damai-damai saja. Bahkan jilbab yang dipakai umat Islam di Indonesia saat ini adalah pengaruh revolusi Iran. Coba tanya orang-orang juga, adakah jilbab pada tahun 1970an? No. Never. Setiap orang yang Anda tanya pasti akan geleng-geleng kepala. Bahkan remaja masjid yang putri, hingga awal 1980an pakai rok biasa. Bukan jubah. Cuma rok panjang di bawah lutut, tanpa jilbab. Padahal, itu remaja masjid lho. Kalau kerudung saat itu cuma tersisa dipakai kaum nenek-nenek saja. Kerudung tradisional yang dipadu dengan kebaya itu maksud saya, bukan jilbab. Karena saat itu jilbab memang belum ada. Kalau pun masih ada remaja putri yang memakai kerudung tradisional, itu umumnya para santriwati yang di desa-desa.

Tentu saja, pada tahun 1980-an itu tak ada satu pun umat Islam di Indonesia yang mengkafirkan Syiah. Malah rata-rata pro Syiah di Iran. Bahkan, revolusi Islam di Iran pada masa itu dianggap
banyak umat Islam di seluruh dunia sebagai simbol kebangkitan dunia Islam di dalam menghadapi hegemoni dunia Barat, terutama Amerika. Karena Syah Iran itu adalah boneka Amerika. Sebagian orang Indonesia yang kebangetan kagumnya dengan revolusi Islam di Iran yang sukses menumbangkan monarki zalim Syah Iran lalu masuk Syiah sekalian. Termasuk Kang Jalal mungkin? Jadi, pada masa itu memang tak ada permusuhan antara Sunni vs Syiah. Permusuhan yang terjadi sekarang ini adalah akibat propaganda negara-negara monarki di Teluk. Dan sialnya lagi, permusuhan itu sekarang semakin diperparah dengan blunder politik Iran yang mendukung diktator Assad. Suatu hal yang malah bertentangan dengan cita-cita revolusi Iran itu sendiri. Iran itu kan negara republik. Presiden Iran juga cuma bisa dipilih dua periode saja. Nah, repotnya pemerintah Iran sekarang justru mendukung kediktatoran di Syria. Suatu blunder yang bisa saja akan berpengaruh cukup lama terhadap hubungan Sunni Syiah. Apalagi, bila ditinjau dari sudut tauhid, umat Alawi di Syria itu bukan termasuk Islam lagi karena meyakini adanya trinitas yang terdiri dari Nabi Muhammad, 'Ali dan Salman al-Farisi. Musyrik begitulah. Beda dengan Itsna Asya'ariyah di Iran yang cuma memuja Ali dan ahlul bait saja, tidak sampai menuhankannya. 

Bagaimana pun, Syiah pada masa Khalifah Ali itu memang jauh berbeda dengan Syiah yang ada pada masa selanjutnya, termasuk zaman sekarang. Pada masa Ali, Syiah itu tradisi dan amal ibadahnya sama dengan umat Islam pada umumnya. Belum ada mazhab pada masa itu. Semua umat Islam sama tata cara ibadahnya. Pada masa selanjutnya Syiah lalu ditambahi beragam tradisi macam-macam yang lalu dianggap tradisi agama. Politik akhirnya tercampur aduk dengan agama. Akan tetapi, penambahan agama dengan beragam tradisi seperti itu juga terdapat pada umat Islam tradisional di Indonesia. Nah, walau ada beragam tambahan tradisi itu apakah kita lalu bisa mengafirkan umat Islam tradisional di Indonesia? Tentu tidak. Karena mereka juga tetap bersyahadat dan mengamalkan rukun Islam lainnya.

Walau kita tak bisa mengafirkan Syiah karena mereka memang masih mengamalkan rukun Islam, secara pribadi saya tak menyukai tradisi-tradisi Syiah yang saya anggap terlalu berlebih-lebihan, seperti misalnya tradisi Ashura. Itu jelas tradisi saja karena tak ada pada zaman Nabi. Peristiwa Karbala itu kan terjadinya jauh setelah zaman Nabi. Juga pemujaan yang berlebihan kepada Ali. Itu juga tentu tak ada pada zaman Nabi. Bahkan pada zaman Ali sendiri itu tak ada. Baru ada pada masa selanjutnya. Mustahil pemujaan semacam itu ada pada zaman Ali karena Ali dijamin akan marah bila dipuja seperti itu oleh pengikutnya. Ali pribadi yang rendah hati dan bukan pribadi yang suka dipuja-puji, apalagi dengan sangat berlebihan.

Oleh karena itu, walau tak mengafirkan Syiah saya berharap ajaran Syiah tak makin menyebar di Indonesia. Cukup segitu saja umatnya. Tak usah bertambah lagi. Saya hanya tak ingin kita saling mengafirkan sesama umat Islam yang sama-sama mengucapkan kalimat syahadat walaupun memang banyak tradisinya yang berbeda. Kita harus bisa berlapang dada menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada pada umat Islam. Praktek keagamaan dan tradisi sesama umat Sunni juga banyak yang berbeda. Kan ada empat mazhab Sunni itu. Apa karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut kita lalu mengafirkan umat Sunni yang lainnya? Tidak bisa.

Sebagai tambahan, silakan baca juga artikel Islam, Orientalism and the West oleh Edward Said ini. Saya scan dari majalah Time edisi 16 April 1979. Berita utamanya tentang Revolusi Iran yang saat itu baru-baru saja terjadi. Sayang artikel lainnya tak saya scan juga, sekarang majalahnya sudah terselip entah di mana. Kalau mau baca bisa juga lihat berita lawas di TIME Magazine Cover: Islam's Revival. Gambar sampul depannya sangat bagus, foto muazin yang tengah mengumandangkan azan dengan latar belakang sebuah kota di Iran dengan pewarnaan bergaya zaman lawas. Itu gambar yang saya pasang di atas. Saat itu revolusi Iran memang menjadi inspirasi bagi gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk di dunia Islam Sunni. Dan tentu saja termasuk di Palestina, negara asal Edward Said. Hamas dan Hizbullah itu juga baru berdiri pada tahun 1980an, karena terinspirasi revolusi Iran, untuk selanjutnya mereka menggeser dominasi gerakan kaum kiri dan sekuler di Palestina dan Libanon.

Jakarta, 6 Februari 2014