Wednesday, February 5, 2014

Dakwah Walisongo Dengan Kesenian Wayang Kulit

Oleh: Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Sebelum Islam datang dan berkembang di pulau Jawa, masyarakat Jawa telah lama menggemari akan kesenian, baik pertunjukan wayang dengan gamelannya maupun seni tarik suara. Maka oleh karena itu para walisongo mengambil siasat menjadikan kesenian itu sebagai alat dakwahnya, guna memasukkan ajaran islam kepada masyarakat Islam kepada masyarakat lewat apa yang selama ini menjadi kegemarannya.

Cara ini adalah merupakan sebagian cara bijaksana dalam pendekatan dan menarik simati rakyat serta memperkenalkan ajaran Islam kepadanya.

Pertunjukan wayang telah ada semenjak zaman Prab Jayabaya raja kerajaan Kediri yang memerintah tahuun 1135 -1157, bahkan dialah yang pertama kali menciptakannya. Namun wayang yang ada pada masa itu adalah wayang purwo yang terbuat dari lembaran kertas lembar? yang kemudian terkenal dengan wayang beber.

Sebelum para wali mengambil wayang sebagai alat dakwahnya, terlebih dahulu walisongo bermusyawarah tentang hukum gambar wayang yang mirip manusia pada masa itu, Sunan Giri berpendapat bahwa wayang itu hukumnya haram jika menyerupai bentuk manusia, sedangkan menggambar manusia hukumnya adalah haram dan itu semua berdasarkan dalil dalil. Sunan Giri berpendapat demikian karena beliau melihat kondisi pada saat itu. Sunan Kalijaga mengusulkan agar tidak menjadi haram, gambar wayang yang ada pada saat itu dirubah bentuknya, umpamanya tangannya lebih panjang dari kakinya, hidungnya panjang panjang, kepalanya agak menyerupai binatang dan lain lain biar tidak serupa persis dengan manusia, kalau sudah tidak serupa tentu saja hukumnya tidak menjadi haram lagi. Akhirnya usul itu disetujui oleh para walisongo. Setelah itu dimulailah penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga sendiri, peristiwa itu terjadi kira-kira tahun 1443 M, dan sekaligus para walisongo menciptakan gamelannya. Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para walisongo mengarang cerita yang bernafaskan nilai nilai keislaman. Adapun pelaku cerita dalam pewayangan yang terkenal hingga saat ini adalah cerita tentang punokawan pandowo, yang terdiri dari Semar, petruk, gareng dan bagong. Keempat pelaku itu mengandung faksafah yang amat dalam, diantaranya sebagai berikut :

1. Semar, dari bahasa Arab "Simaar" yang artinya Paku, dikatakan bahwa kebenaran agama Islam adalah kokoh, sejahtera bagaikan kokohnya paku yang tertancap yakni SIMAARUDDUNYA.

2. Petruk, dari bahasa Arab "Fatruk" yang artinya tinggalkan, sama dengan kalimat FATRUK KULUMAN SIWALLAHI yaitu tinggalkanlah segala yang selain Allah.

3. Gareng, dari bahasa Arab "Naala Qoriin" (nala gareng), yang artinya memperoleh banyak kawan, yaitu sebagai tujuan para wali adalah berdakwah untuk memperoleh kawan banyak.

4. Bagong, dari bahsa Arab "Bagha" yang artinya lacut atau berontak, yaitu memberontak terhadap sesuatu yang zalim.

Adapula yang mengatakan bahwa :

"Semar pada hakekatnya adalah lambang nafsu mutmainah,
Gareng lambang dari nafsu amarah
Petruk lambang dari nafsu lauwamah
Bagong lambang dari nafus sufiyah
Togok asal kata Thogut, artinya Iblis.

Pertunjukan wayang itu dimainkan oleh seorang dalang, nama dalang ini juga diambil dari bahasa Arab "Dalla" yang artinya petunjuk maksudnya orang yang menunjukkan ke jalan yang benar.

Selain cerita pelaku pewayangan tersebut diatas masih banyak lagi cerita wayang yang diciptakan oleh para walisongo sendiri, artinya cerita itu tidak diambil dari kitab Mahabarata dan kitab Ramayana versi India. Diantara kisah yang diciptakan walisongo antara lain cerita Dewa Ruci (Kisahnya Nabi Khidir), JImat Kalimasada (kalimat syahadat), Petruk jadi raja, Pandu Pragolo, Mustaka Weni dan lain-lain.

Dalam cerita tentang JIMAT KALIMOSODO (kalimat syahadat), dalam cerita itu digambarkan barang siapa yang memiliki jimat kalimosodo pasti tidak akan mati karena telah memiliki jimat kalimosodo. Arti kiasan ini adaalh bahwa dengan kalimat syahadat berarti dia akan selamat selama lamanya. Dikatakan dalam kisah ini Prabu Darmokusumo mempunyai empat saudara yang dalam cerita itu disebut Pandawo Limo (Pandawa Lima), artinya bahwa rukun Islam itu terdiri dari lima perkara yaitu mengucapkan dua kalimat syahdat, sembahyang, puasa, zakat dan pergi haji.

Kisah lainnya misalnya penggambaran Dewa Ruci. Digambarkan sang Bima menemukan tentang arti kehidupan yang sebenarnya, Bima disuruh oleh gurunya yang bernama Pandito Durno mencari air suci yang adanya didasar laut, dasar samudra yang gelombangnya besar dan menggelegak, dengan ketekadannya sang Bima berhasil sampai kebawah lautan dan disana diceritakan dia menemui Dewa Ruci. Dewa Ruci itu adalah Nabi Khidir.

Demikianlah diantara cerita atau dongeng yang diciptakan para wali terutama Sunan Kalijaga yang banyak mengandung nilai nilai filsafat yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat jawa yang dapay menterjemahkan arti dan maksudnya.

Awal mula langkah da'wah menggunakan kesenia wayang dilakukan di serambi masjid Agung Demak dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertama tama ditabuhlah gamelan gong bertalu talu yang suaranya kedengaran dimana-mana. Sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu apabila mereka mendengar sesuatu bunyi bunyian mereka saling berdatangn, lebih lebih suara itu enak kedengarannya.Maka tidaklah mengherankan kalau gamelan yang dibunyikan oleh para walis itu dikunjungi banyak orang. Dan perlu diingat bahwa Masjid Agung Demak yang didirikan walisongo dan Raden Fattah telah dilengkapi dengan GAPURO (pintu masuk), gapuro artinya ampunan, jadi siap siapa yang mau masuk gapuro dosanya akan terampuni sebab dia telah masuk Islam. Selain itu pula didepan masjid agun demak terutama sebelah kiri ada sebuah kolam tempat mengambil air wudhu. Tiap Tiap pintu gapuro telah dijaga oleh para wali, sebelum orang orang memasuki gapuro diharuskan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai "karcis" masuknya dan ini tentu diajarkan oleh para wali penjaga itu sendiri. Setelah membaca Syahadat baru diperkenankan masuk. Sebelum mereka masuk kemasjid mereka harus mencuci kaki terlebih dahulu dikolam yang telah tersedia didepan masjid. Kolam itu sampai saat ini masih dapat digunakan lagi untuk mengambil air wudhu. Di tepi kolam telah ada wali yang menjaganya, orang orang yang akan mencuci kaki, harus menurut aturan yang dibuat oleh wali, maka dari itu mereka harus diajari cara caranya, antara lain pertama tama muka harus dicuci, lalu kepala (ubun-ubun) harus dibasahi biar adem, dekil dekil yang ada ditelinga harus dihilangkan dengan air, yang terakhir kedua kaki harus dicuci sampai bersih, baru mereka dipersilahkan memasuki serambi mesjid untuk mendengarkan wayang dan gamelannya..

Disitulah mereka asyik mendengarkan cerita cerita gubahan para wali yang bernafaskan Islam. setelah waktu zuhur tiba, mereka semua diajak berdoa agar supaya sang dewa tidak murka, cara berdoanyapun diajarkan oleh seorang wali (dipimpin seorang wali) dengan gerakkan gerakan yang berarti. Kesemuanya itu secara tidak sadar mereka telah diajarkan wudhu dan bersembahyang, namun mereka tidak dikasih tahu bahwa yang diperbuat itu cara cara islam dan mereka telah masuk Islam.

Hari demi hari suasana itu terus berlangsung tersu sehingga secara tidak terasa telah berduyu duyun masyarakat Jawa telah memeluk agama Islam.>Demikianlah Islam masuk ke tanah Jawa secara Damai tanpa paksaan.

Dakwah dengan metode tersebut sangat tepat apabila diterapkan terhadap masyarakat yang masih kolot, masyarakat yang belum mengenal kemajuan, suku suku terasing yang ada dipedalaman. Dan cara seperti ini bisa dilaksanakan apabila seorang Da'i dapat menyelami adat istiadat masyarakat yang akan didakwahinya.

 

Dikutip dari buku "Metode Dakwah Walisongo oleh Nur Amin Fattah Tahun 1997, CV Bahagia, Pekalongan.



Sumber: Dakwah Walisongo Dengan Kesenian Wayang Kulit