Monday, February 3, 2014

Kumpulan Puisi Taufik Ismail 1966




Yang Kami Minta Hanyalah
 
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya

Dari kakilangit ke kakilangit air membusa
Dari tahun ke tahun ia datang melanda
Sejak dari tumit, ke paha lalu lewat kepala
Menyeret semua

Bila air surut tinggalah angin menudungi kami
Di atas langit dan di bawah lumpur di kaki
Kelepak podang di pohon randu

Bila tanggul pecah tinggalah runtuhan lagi
Sawah retak-retak berebahan tangkai padi
Nyanyi katak bertalu-talu

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni

Kirimlah kapur dan semen. Insinyur ahli
Lupakan tersianya sedekah berjuta-juta
Yang tak sampai kepada kami

Bertahun-tahun kita merdeka, bapa
Yang kami minta hanyalah
sebuah bendungan saja
Kabulkanlah kiranya

(Benteng, Taufik Ismail)



Kita Adalah Pemilik Syah Republik Ini

Tidak ada lagi pilihan, Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran :
"Duli Tuanku?"

Tidak ada lagi pilihan. Kita harus
Berjalan terus


Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahan hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan. Kita harus
Berjalan terus

(Tirani, Taufik Ismail)




Dari Ibu Seorang Demonstran

Oleh : Taufik Ismail

"Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini"

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walapun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta rasul kita yang tercinta

pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

1966



Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

Oleh: Taufiq Ismail

    “Tadi siang ada yang mati,
    Dan yang mengatar banyak sekali
    Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
    Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
    Sampai bensin juga turun harganya
    Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
    Mereka kehausan dalam panas bukan main
    Terbakar mukanya diatas truk terbuka
    Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
    Biarlah sepuluh ikat juga
    memang sudah rejeki mereka
    Mereka berteriak kegirangan dan berebutan
    Seperti anak-anak kecil
    Dan memyoraki saja. Betul bu, menyoraki saja
    ‘Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!’
    Dan ada yang turun dari truk, bu
    Mengejar dan menyalami saja
    ‘Hidup rakyat!’ teriaknya
    Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
    ‘Hidup pak rambutan!’ sorak mereka
    ‘Terima kasih pak, terima kasih!
    Bapak setuju kami, bukan?’
    Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
    ‘Doakan perjuangan kami, pak!’
    Mereka naik truk kembali
    Masih meneriakkan terima-kasihnya
    ‘Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!’
    Saya tersedu, bu. Belum pernah seumur hidup
    Orang berterimakasih begitu jujurnya
    Pada orang kecil seperti kita”.