Wednesday, June 19, 2013

Opera Tan Malaka dan Nostalgia Perang Dingin.



By: Helmi Junaidi

Hammering The Berlin Wall
 
Tulisan ini untuk menanggapi pelarangan opera Tan Malaka di sebagian TV swasta. Ini opera yang dipentaskan di Teater Salihara beberapa waktu yang lalu. Kalau masalah pementasan teater, musik dan sebagainya ya seharusnya  bisa bebas saja, kan cuma sekedar pementasan di panggung. Tapi, kalau  pendapat saya tentang komunisme dan marxisme yang diterapkan dalam kehidupan bernegara antara lain bisa kita nikmati dalam dua lagu berikut, yakni Mother Russia dari Iron Maiden dan Wind of Change dari Scorpion. Perhatikan isi liriknya. Bisa Anda lihat di link youtube tersebut.


Lagu-lagu tersebut dirilis pada akhir 80-an saat terjadinya euphoria karena runtuhnya komunisme. Pada saat itu seluruh dunia menjadi  terperangah, menggosok-gosok matanya takjub seolah tak percaya dengan apa yang  dilihatnya di depan mata. Benar-benar memang tak bisa dipercaya! The Mighty Sovyet Empire, benteng komunisme yang sedemikian perkasa dan menakutkan itu telah tumbang. Orang jadi tambah takjub lagi saat melihat tembok Berlin yang seram itu ramai-ramai dipanjat dan dirubuhkan, sebagian dijadikan suvenir. Orang dari Barat dan Timur berkumpul menyemut memenuhi tembok Berlin merayakan runtuhnya tembok tersebut. Keluarga-keluarga yang telah lama tak bertemu karena dipisahkan oleh tembok kini saling menangis berpelukan. Timur dan Barat saling berpelukan dalam tawa, haru dan tangis campur jadi satu. Seluruh dunia terperangah dan bertanya-tanya apakah ini memang benar-benar terjadi? Benar-benar seperti mimpi. Dan setelah benar-benar yakin bahwa itu sunguh-sungguh terjadi, maka orang hanya bisa berucap satu kata: Miracle!

Penduduk Berlin Barat dan Timur Merayakan Runtuhnya Tembok Berlin


Mengucapkan “mukjizat” walau sambil di hati tiap-tiap orang masih terbersit kecemasan bahwa segalanya mungkin hanya akan berlangsung sesaat saja sebelum kemudian dilindas kembali oleh tank-tank Sovyet sebagaimana yang terjadi di Hungaria tahun 50-an. Tapi, syukurlah hal itu tak pernah terjadi. Di Sovyet sendiri partai komunis malah kemudian dibubarkan setelah terjadinya percobaan kudeta menggulingkan Gorbachev.

Padahal, beberapa tahun sebelumnya, lagu yang bisa menggambarkan suasana Sovyet saat itu adalah bila Anda melihat video klip Nikita dari Elton John. Pos perbatasan dengan para penjaganya yang sangar tanpa senyum, suasana dingin bersalju dengan pasukan bermantel tebal yang berbaris kaku-kaku. Ditambah lagi invasi Sovyet ke Afghanistan dan perang yang berlarut-larut di sana yang membuat negara-negara non komunis makin menjadi mengkeret ketakutan seperti anak-anak ayam melihat musang. Tapi, orang masih berusaha tertawa juga dengan misalnya menerbitkan buku humor Mati Ketawa Cara Russia. Tak ada sama sekali ahli politik dan militer yang berani membayangkan dan memberikan prediksi bahwa Uni Sovyet yang sedemikian perkasa itu akan bisa tumbang dalam waktu dekat. Rata-rata orang pada saat itu hanya bisa menerima nasib bahwa dunia akan selamanya terpecah menjadi Blok Barat dan Blok Timur. Perang dingin selamanya, yang kerapkali memercik menjadi perang panas di sana-sini, dengan jutaan korban di kedua belah pihak. Dan orang hanya bisa berdoa semoga tak pernah meletus PD III, yang artinya kiamat.

Bagi Anda yang juga sempat mengalami hidup pada masa perang dingin, tulisan ini mungkin akan bisa membuat Anda bernostalgia sejenak mengenang masa itu. Apa yang saya tulis di atas memang mencerminkan perasaan semua orang pada masa itu. Sedangkan bagi generasi yang saat itu masih kecil atau yang baru lahir setelah perang dingin dan tidak sempat mengalaminya, maka semoga tulisan ini bisa membantu untuk mengetahui bagaimana gambaran sekilas pada masa itu.

Mukjizat! Hanya kata itu yang paling tepat untuk menggambarkannya. Memang benar-benar suatu mukjizat. Dan pada saat itu semua orang berharap bahwa hal serupa bisa terjadi di Cina dan Korea Utara. Tapi, tragedi berdarah di Tiananmen telah memupus harapan tersebut. Walau demikian, hingga saat ini rasanya masih banyak orang berharap hal serupa bisa terjadi di sana, entah kapan. Berharap saat-saat di mana lagu Mother Russia versi Cina atau lagu The Wall berbahasa Mandarin bisa diputar keras-keras di lapangan Tiananmen dan lapangan merah Pyongyang. Dan sembari berharap hal tersebut terjadi, maka hendaklah kita jangan menambah jumlah lapangan merah lagi di negara mana saja, termasuk di Indonesia tentunya.

Dan akhirnya sebagai penutup tulisan ini, marilah kita dengarkan lirik lagu Mother Russia dari Iron Maiden.

Mother Russia dance of the czars
Hold up your heads be proud of what you are
Now it has come freedom at last
Turning the tides of history and your past

Mother Russia dance of the stars
Hold up your heads remember who you are
Can you release the anger the grief
Can you be happy now your people are free



Baca juga:


21 Januari 2011