Thursday, February 6, 2014

Syiah dan Sunni, Mazhab Politik dalam Islam

Oleh: Helmi Junaidi


Muazin sedang mengumandangkan azan di Iran

 

Saya beri judul seperti di atas karena selama ini banyak orang yang keliru bahwa di dalam Islam juga pernah ada perang agama seperti di Eropa. Di dalam sejarah Islam tak pernah ada perang agama. Tak ada, kecuali perselisihan soal-soal fiqih dan filsafat, tapi tak sampai menimbulkan perang besar seperti yang terjadi di Eropa. Perpecahan Islam menjadi dua sekte besar, yaitu Syiah dan Sunni, juga bukan bermula soal agama, tapi soal politik. Gara-gara rebutan kursi khalifah.  Perseteruan soal kursi saja. Akan tetapi, masing-masing pihak yang berseteru lalu membawa dalil-dalil agama untuk membenarkan pendirian politik masing-masing, bahkan kadang mengarang hadits palsu. Walhasil, hal yang semula murni perselisihan politik akhirnya menjadi tercampur aduk dengan soal agama. Memang pada saat ini terutama dianggap sebagai mazhab agama, tapi sebenarnya bukan. Soal agama pada mulanya tidak ada sama sekali. Karena persoalan utamanya ya cuma itu, rebutan jabatan khalifah. Murni soal politik. 

Pada zaman fitnah setelah terbunuhnya Khalifah Usman di tangan pemberontak, umat Islam terbagi atas tiga golongan,  yaitu Syiah Ali, pendukung Muawiyah dan kaum Khawarij. Andai saja Anda hidup pada masa itu akan mendukung siapakah Anda? Mendukung Ali, Khawarij atau Muawiyah? Ada yang berminat mendukung Khawarij dan Muawiyah? Go to Hell !!  Bila hidup pada masa itu saya pribadi jelas akan mendukung Ali. Nah, Syiah masa kini itu adalah sisa-sisa pendukung Ali. Pendukung yang sangat fanatik, hardliner Ali istilahnya sehingga akhirnya sampai berlebihan dan suka mencaci-maki sahabat yang lain dan memuja Ali secara terlalu berlebihan pula. Sikap berlebihan ini yang salah. Akan tetapi, pada zaman fitnah setelah wafatnya Khalifah Usman, maka Syiah Ali ini adalah pihak yang paling bisa mewakili umat Islam. Bukan Khawarij, apalagi Muawiyah yang ambisius. Kalau saat ini, karena terlalu fanatiknya Syiah  kepada Ali memang banyak sudah berbagai hal yang terlalu berlebihan dalam ajaran Syiah. Walau demikian umat Syiah tetap mengucapkan syahadat dan semua hal yang diwajibkan dalam Islam. Syiah Itsna Asya'ariyah yang di Iran dan Irak yang saya maksudkan. Bukan yang di Syria yang memang jelas musyrik karena menuhankan Ali. 

Awal mulanya terbentuknya Syiah itu memang dari sengketa politik. Bukan karena perselisihan agama seperti Katolik vs Protestan di Eropa. Juga sekarang ini. Karena soal politik juga. Permusuhan sengit antara Sunni vs Syiah pada zaman modern ini pun baru bermula pada tahun 1980an, yakni setelah terjadinya Revolusi Iran. Karena soal politik juga. Saat itu rezim monarki di negara-negara teluk sangat ketakutan dengan ide ekspor revolusi dari Khomeini. Khomeini sangat anti monarki dan bermaksud mengekspor revolusi ke semua negara monarki di Teluk dan menumbangkannya. Ini terutama karena anggapan Khomeini bahwa Saudi cs itu hanyalah boneka Barat. Tak jauh beda dengan Syah Iran.

Isu ekspor revolusi Iran menjadi trending topik pada masa itu. Banyak dibahas dimana-mana. Amerika dan Eropa Barat juga turut resah karenanya. Saat itu rencana Khomeini adalah menumbangkan Saddam Hussein dan mendirikan republik Islam di Irak. Dan selanjutnya tentu merambah ke semua negara Arab, termasuk yang di Teluk. Asli isu politik, bukan? Tapi, akhirnya diberi bumbu agama. Menghadapi ancaman ekspor revolusi Iran itu kerajaan-kerajaan Arab di teluk segera membuat mesin propaganda anti Syiah dengan biaya jutaan dollar, antara lain melalui buku-buku anti Syiah yang lalu disebarkan ke seluruh negara Islam sejak era 1980an itu. Termasuk ke Indonesia. Buku-buku yang isinya mengkafirkan Syiah dan sebagainya.

Bermula soal politik juga. Sebelumnya hubungan Syiah-Sunni baik-baik saja. Sialnya, banyak generasi sekarang yang tak tahu sejarahnya. Generasi yang terlanjur termakan propaganda politik Saudi dan kawan-kawan yang mencampuradukkan propaganda politik dengan isu agama. Bahkan sebagian generasi yang lebih tua juga ikut termakan propaganda negara-negara monarki tersebut. Akhirnya hubungan Syiah dan Sunni menjadi memanas. Sejarahnya bermula saat Perang Teluk I itu, Iran vs Irak. Dan akhirnya terus berlanjut.

Pada era 1980-an itu, trend umat Islam di seluruh dunia, baik yang Syiah maupun Sunni adalah pro Iran, termasuk di Indonesia. Bahkan juga dalam soal busana. Jilbab yang ada di Indonesia ini adalah pengaruh revolusi Iran. Jilbab baru ada tahun 1980an. Banyak yang tak tahu sejarah jilbab ini, bukan? Hehehe... Silakan lihat beberapa capture twit di bawah. Itu hasil search twitter dengan kata kunci "revolusi Iran jilbab".





Supaya lebih yakin, silakan Anda cari juga sumber lainnya di internet dengan kata kunci yang sama. Mesti hasilnya juga sama, bahwa jilbab itu memang terinspirasi oleh revolusi di Iran. Oleh karena itu, Suharto dkk pada masa itu juga sangat ketakutan dengan jilbab karena merupakan salah satu simbol revolusi Islam Iran. Dilarang bukan terutama karena soal busananya itu sendiri, tapi karena dianggap sebagai simbol revolusi Islam. Coba tanya juga Kang Jalal. Saya tak tahu persis sejak kapan Kang Jalal masuk Syiah, tetapi kemungkinan besar baru tahun 1980an. Trend umat Islam di seluruh dunia saat itu, baik yang Sunni maupun Syiah, memang pro Iran yang menganut Syiah itu. Pada masa itu memang tak ada permusuhan Sunni vs Syiah, yang ada adalah perseteruan antara Republikan anti Barat vs Monarki pro Barat.

Setelah berakhirnya perang Teluk, permusuhan Iran vs Saudi cs tetap berlanjut. Propaganda anti Syiah dan mengkafirkan Syiah jalan terus. Pada akhirnya
propaganda lewat buku-buku dan berbagai media lainnya yang berbiaya jutaan petrodolar tersebut berhasil mempengaruhi banyak generasi muda Islam.  Mereka terpengaruh menjadi anti Syiah. Saya tak tahu peran Amerika disini. Mungkin saja saat itu ikut terlibat karena Amerika sejak dulu anti Iran juga. Walau saya kira sekarang tidak.

Jadi, cukup jelas bukan? Bahwa permusuhan Sunni vs Syiah yang ada saat ini juga bermula dari soal politik. Bukan soal agama. Dulu damai-damai saja. Bahkan jilbab yang dipakai umat Islam di Indonesia saat ini adalah pengaruh revolusi Iran. Coba tanya orang-orang juga, adakah jilbab pada tahun 1970an? No. Never. Setiap orang yang Anda tanya pasti akan geleng-geleng kepala. Bahkan remaja masjid yang putri, hingga awal 1980an pakai rok biasa. Bukan jubah. Cuma rok panjang di bawah lutut, tanpa jilbab. Padahal, itu remaja masjid lho. Kalau kerudung saat itu cuma tersisa dipakai kaum nenek-nenek saja. Kerudung tradisional yang dipadu dengan kebaya itu maksud saya, bukan jilbab. Karena saat itu jilbab memang belum ada. Kalau pun masih ada remaja putri yang memakai kerudung tradisional, itu umumnya para santriwati yang di desa-desa.

Tentu saja, pada tahun 1980-an itu tak ada satu pun umat Islam di Indonesia yang mengkafirkan Syiah. Malah rata-rata pro Syiah di Iran. Bahkan, revolusi Islam di Iran pada masa itu dianggap
banyak umat Islam di seluruh dunia sebagai simbol kebangkitan dunia Islam di dalam menghadapi hegemoni dunia Barat, terutama Amerika. Karena Syah Iran itu adalah boneka Amerika. Sebagian orang Indonesia yang kebangetan kagumnya dengan revolusi Islam di Iran yang sukses menumbangkan monarki zalim Syah Iran lalu masuk Syiah sekalian. Termasuk Kang Jalal mungkin? Jadi, pada masa itu memang tak ada permusuhan antara Sunni vs Syiah. Permusuhan yang terjadi sekarang ini adalah akibat propaganda negara-negara monarki di Teluk. Dan sialnya lagi, permusuhan itu sekarang semakin diperparah dengan blunder politik Iran yang mendukung diktator Assad. Suatu hal yang malah bertentangan dengan cita-cita revolusi Iran itu sendiri. Iran itu kan negara republik. Presiden Iran juga cuma bisa dipilih dua periode saja. Nah, repotnya pemerintah Iran sekarang justru mendukung kediktatoran di Syria. Suatu blunder yang bisa saja akan berpengaruh cukup lama terhadap hubungan Sunni Syiah. Apalagi, bila ditinjau dari sudut tauhid, umat Alawi di Syria itu bukan termasuk Islam lagi karena meyakini adanya trinitas yang terdiri dari Nabi Muhammad, 'Ali dan Salman al-Farisi. Musyrik begitulah. Beda dengan Itsna Asya'ariyah di Iran yang cuma memuja Ali dan ahlul bait saja, tidak sampai menuhankannya. 

Bagaimana pun, Syiah pada masa Khalifah Ali itu memang jauh berbeda dengan Syiah yang ada pada masa selanjutnya, termasuk zaman sekarang. Pada masa Ali, Syiah itu tradisi dan amal ibadahnya sama dengan umat Islam pada umumnya. Belum ada mazhab pada masa itu. Semua umat Islam sama tata cara ibadahnya. Pada masa selanjutnya Syiah lalu ditambahi beragam tradisi macam-macam yang lalu dianggap tradisi agama. Politik akhirnya tercampur aduk dengan agama. Akan tetapi, penambahan agama dengan beragam tradisi seperti itu juga terdapat pada umat Islam tradisional di Indonesia. Nah, walau ada beragam tambahan tradisi itu apakah kita lalu bisa mengafirkan umat Islam tradisional di Indonesia? Tentu tidak. Karena mereka juga tetap bersyahadat dan mengamalkan rukun Islam lainnya.

Walau kita tak bisa mengafirkan Syiah karena mereka memang masih mengamalkan rukun Islam, secara pribadi saya tak menyukai tradisi-tradisi Syiah yang saya anggap terlalu berlebih-lebihan, seperti misalnya tradisi Ashura. Itu jelas tradisi saja karena tak ada pada zaman Nabi. Peristiwa Karbala itu kan terjadinya jauh setelah zaman Nabi. Juga pemujaan yang berlebihan kepada Ali. Itu juga tentu tak ada pada zaman Nabi. Bahkan pada zaman Ali sendiri itu tak ada. Baru ada pada masa selanjutnya. Mustahil pemujaan semacam itu ada pada zaman Ali karena Ali dijamin akan marah bila dipuja seperti itu oleh pengikutnya. Ali pribadi yang rendah hati dan bukan pribadi yang suka dipuja-puji, apalagi dengan sangat berlebihan.

Oleh karena itu, walau tak mengafirkan Syiah saya berharap ajaran Syiah tak makin menyebar di Indonesia. Cukup segitu saja umatnya. Tak usah bertambah lagi. Saya hanya tak ingin kita saling mengafirkan sesama umat Islam yang sama-sama mengucapkan kalimat syahadat walaupun memang banyak tradisinya yang berbeda. Kita harus bisa berlapang dada menghadapi perbedaan-perbedaan yang ada pada umat Islam. Praktek keagamaan dan tradisi sesama umat Sunni juga banyak yang berbeda. Kan ada empat mazhab Sunni itu. Apa karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut kita lalu mengafirkan umat Sunni yang lainnya? Tidak bisa.

Sebagai tambahan, silakan baca juga artikel Islam, Orientalism and the West oleh Edward Said ini. Saya scan dari majalah Time edisi 16 April 1979. Berita utamanya tentang Revolusi Iran yang saat itu baru-baru saja terjadi. Sayang artikel lainnya tak saya scan juga, sekarang majalahnya sudah terselip entah di mana. Kalau mau baca bisa juga lihat berita lawas di TIME Magazine Cover: Islam's Revival. Gambar sampul depannya sangat bagus, foto muazin yang tengah mengumandangkan azan dengan latar belakang sebuah kota di Iran dengan pewarnaan bergaya zaman lawas. Itu gambar yang saya pasang di atas. Saat itu revolusi Iran memang menjadi inspirasi bagi gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk di dunia Islam Sunni. Dan tentu saja termasuk di Palestina, negara asal Edward Said. Hamas dan Hizbullah itu juga baru berdiri pada tahun 1980an, karena terinspirasi revolusi Iran, untuk selanjutnya mereka menggeser dominasi gerakan kaum kiri dan sekuler di Palestina dan Libanon.

Jakarta, 6 Februari 2014

Wednesday, February 5, 2014

Dakwah Walisongo Dengan Kesenian Wayang Kulit

Oleh: Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Sebelum Islam datang dan berkembang di pulau Jawa, masyarakat Jawa telah lama menggemari akan kesenian, baik pertunjukan wayang dengan gamelannya maupun seni tarik suara. Maka oleh karena itu para walisongo mengambil siasat menjadikan kesenian itu sebagai alat dakwahnya, guna memasukkan ajaran islam kepada masyarakat Islam kepada masyarakat lewat apa yang selama ini menjadi kegemarannya.

Cara ini adalah merupakan sebagian cara bijaksana dalam pendekatan dan menarik simati rakyat serta memperkenalkan ajaran Islam kepadanya.

Pertunjukan wayang telah ada semenjak zaman Prab Jayabaya raja kerajaan Kediri yang memerintah tahuun 1135 -1157, bahkan dialah yang pertama kali menciptakannya. Namun wayang yang ada pada masa itu adalah wayang purwo yang terbuat dari lembaran kertas lembar? yang kemudian terkenal dengan wayang beber.

Sebelum para wali mengambil wayang sebagai alat dakwahnya, terlebih dahulu walisongo bermusyawarah tentang hukum gambar wayang yang mirip manusia pada masa itu, Sunan Giri berpendapat bahwa wayang itu hukumnya haram jika menyerupai bentuk manusia, sedangkan menggambar manusia hukumnya adalah haram dan itu semua berdasarkan dalil dalil. Sunan Giri berpendapat demikian karena beliau melihat kondisi pada saat itu. Sunan Kalijaga mengusulkan agar tidak menjadi haram, gambar wayang yang ada pada saat itu dirubah bentuknya, umpamanya tangannya lebih panjang dari kakinya, hidungnya panjang panjang, kepalanya agak menyerupai binatang dan lain lain biar tidak serupa persis dengan manusia, kalau sudah tidak serupa tentu saja hukumnya tidak menjadi haram lagi. Akhirnya usul itu disetujui oleh para walisongo. Setelah itu dimulailah penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga sendiri, peristiwa itu terjadi kira-kira tahun 1443 M, dan sekaligus para walisongo menciptakan gamelannya. Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para walisongo mengarang cerita yang bernafaskan nilai nilai keislaman. Adapun pelaku cerita dalam pewayangan yang terkenal hingga saat ini adalah cerita tentang punokawan pandowo, yang terdiri dari Semar, petruk, gareng dan bagong. Keempat pelaku itu mengandung faksafah yang amat dalam, diantaranya sebagai berikut :

1. Semar, dari bahasa Arab "Simaar" yang artinya Paku, dikatakan bahwa kebenaran agama Islam adalah kokoh, sejahtera bagaikan kokohnya paku yang tertancap yakni SIMAARUDDUNYA.

2. Petruk, dari bahasa Arab "Fatruk" yang artinya tinggalkan, sama dengan kalimat FATRUK KULUMAN SIWALLAHI yaitu tinggalkanlah segala yang selain Allah.

3. Gareng, dari bahasa Arab "Naala Qoriin" (nala gareng), yang artinya memperoleh banyak kawan, yaitu sebagai tujuan para wali adalah berdakwah untuk memperoleh kawan banyak.

4. Bagong, dari bahsa Arab "Bagha" yang artinya lacut atau berontak, yaitu memberontak terhadap sesuatu yang zalim.

Adapula yang mengatakan bahwa :

"Semar pada hakekatnya adalah lambang nafsu mutmainah,
Gareng lambang dari nafsu amarah
Petruk lambang dari nafsu lauwamah
Bagong lambang dari nafus sufiyah
Togok asal kata Thogut, artinya Iblis.

Pertunjukan wayang itu dimainkan oleh seorang dalang, nama dalang ini juga diambil dari bahasa Arab "Dalla" yang artinya petunjuk maksudnya orang yang menunjukkan ke jalan yang benar.

Selain cerita pelaku pewayangan tersebut diatas masih banyak lagi cerita wayang yang diciptakan oleh para walisongo sendiri, artinya cerita itu tidak diambil dari kitab Mahabarata dan kitab Ramayana versi India. Diantara kisah yang diciptakan walisongo antara lain cerita Dewa Ruci (Kisahnya Nabi Khidir), JImat Kalimasada (kalimat syahadat), Petruk jadi raja, Pandu Pragolo, Mustaka Weni dan lain-lain.

Dalam cerita tentang JIMAT KALIMOSODO (kalimat syahadat), dalam cerita itu digambarkan barang siapa yang memiliki jimat kalimosodo pasti tidak akan mati karena telah memiliki jimat kalimosodo. Arti kiasan ini adaalh bahwa dengan kalimat syahadat berarti dia akan selamat selama lamanya. Dikatakan dalam kisah ini Prabu Darmokusumo mempunyai empat saudara yang dalam cerita itu disebut Pandawo Limo (Pandawa Lima), artinya bahwa rukun Islam itu terdiri dari lima perkara yaitu mengucapkan dua kalimat syahdat, sembahyang, puasa, zakat dan pergi haji.

Kisah lainnya misalnya penggambaran Dewa Ruci. Digambarkan sang Bima menemukan tentang arti kehidupan yang sebenarnya, Bima disuruh oleh gurunya yang bernama Pandito Durno mencari air suci yang adanya didasar laut, dasar samudra yang gelombangnya besar dan menggelegak, dengan ketekadannya sang Bima berhasil sampai kebawah lautan dan disana diceritakan dia menemui Dewa Ruci. Dewa Ruci itu adalah Nabi Khidir.

Demikianlah diantara cerita atau dongeng yang diciptakan para wali terutama Sunan Kalijaga yang banyak mengandung nilai nilai filsafat yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat jawa yang dapay menterjemahkan arti dan maksudnya.

Awal mula langkah da'wah menggunakan kesenia wayang dilakukan di serambi masjid Agung Demak dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertama tama ditabuhlah gamelan gong bertalu talu yang suaranya kedengaran dimana-mana. Sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu apabila mereka mendengar sesuatu bunyi bunyian mereka saling berdatangn, lebih lebih suara itu enak kedengarannya.Maka tidaklah mengherankan kalau gamelan yang dibunyikan oleh para walis itu dikunjungi banyak orang. Dan perlu diingat bahwa Masjid Agung Demak yang didirikan walisongo dan Raden Fattah telah dilengkapi dengan GAPURO (pintu masuk), gapuro artinya ampunan, jadi siap siapa yang mau masuk gapuro dosanya akan terampuni sebab dia telah masuk Islam. Selain itu pula didepan masjid agun demak terutama sebelah kiri ada sebuah kolam tempat mengambil air wudhu. Tiap Tiap pintu gapuro telah dijaga oleh para wali, sebelum orang orang memasuki gapuro diharuskan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai "karcis" masuknya dan ini tentu diajarkan oleh para wali penjaga itu sendiri. Setelah membaca Syahadat baru diperkenankan masuk. Sebelum mereka masuk kemasjid mereka harus mencuci kaki terlebih dahulu dikolam yang telah tersedia didepan masjid. Kolam itu sampai saat ini masih dapat digunakan lagi untuk mengambil air wudhu. Di tepi kolam telah ada wali yang menjaganya, orang orang yang akan mencuci kaki, harus menurut aturan yang dibuat oleh wali, maka dari itu mereka harus diajari cara caranya, antara lain pertama tama muka harus dicuci, lalu kepala (ubun-ubun) harus dibasahi biar adem, dekil dekil yang ada ditelinga harus dihilangkan dengan air, yang terakhir kedua kaki harus dicuci sampai bersih, baru mereka dipersilahkan memasuki serambi mesjid untuk mendengarkan wayang dan gamelannya..

Disitulah mereka asyik mendengarkan cerita cerita gubahan para wali yang bernafaskan Islam. setelah waktu zuhur tiba, mereka semua diajak berdoa agar supaya sang dewa tidak murka, cara berdoanyapun diajarkan oleh seorang wali (dipimpin seorang wali) dengan gerakkan gerakan yang berarti. Kesemuanya itu secara tidak sadar mereka telah diajarkan wudhu dan bersembahyang, namun mereka tidak dikasih tahu bahwa yang diperbuat itu cara cara islam dan mereka telah masuk Islam.

Hari demi hari suasana itu terus berlangsung tersu sehingga secara tidak terasa telah berduyu duyun masyarakat Jawa telah memeluk agama Islam.>Demikianlah Islam masuk ke tanah Jawa secara Damai tanpa paksaan.

Dakwah dengan metode tersebut sangat tepat apabila diterapkan terhadap masyarakat yang masih kolot, masyarakat yang belum mengenal kemajuan, suku suku terasing yang ada dipedalaman. Dan cara seperti ini bisa dilaksanakan apabila seorang Da'i dapat menyelami adat istiadat masyarakat yang akan didakwahinya.

 

Dikutip dari buku "Metode Dakwah Walisongo oleh Nur Amin Fattah Tahun 1997, CV Bahagia, Pekalongan.



Sumber: Dakwah Walisongo Dengan Kesenian Wayang Kulit

Monday, February 3, 2014

Kumpulan Puisi Taufik Ismail 1966




Yang Kami Minta Hanyalah
 
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnya

Dari kakilangit ke kakilangit air membusa
Dari tahun ke tahun ia datang melanda
Sejak dari tumit, ke paha lalu lewat kepala
Menyeret semua

Bila air surut tinggalah angin menudungi kami
Di atas langit dan di bawah lumpur di kaki
Kelepak podang di pohon randu

Bila tanggul pecah tinggalah runtuhan lagi
Sawah retak-retak berebahan tangkai padi
Nyanyi katak bertalu-talu

Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Tidak tugu atau tempat main bola
Air mancur warna-warni

Kirimlah kapur dan semen. Insinyur ahli
Lupakan tersianya sedekah berjuta-juta
Yang tak sampai kepada kami

Bertahun-tahun kita merdeka, bapa
Yang kami minta hanyalah
sebuah bendungan saja
Kabulkanlah kiranya

(Benteng, Taufik Ismail)



Kita Adalah Pemilik Syah Republik Ini

Tidak ada lagi pilihan, Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran :
"Duli Tuanku?"

Tidak ada lagi pilihan. Kita harus
Berjalan terus


Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahan hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan. Kita harus
Berjalan terus

(Tirani, Taufik Ismail)




Dari Ibu Seorang Demonstran

Oleh : Taufik Ismail

"Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini"

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walapun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta rasul kita yang tercinta

pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

1966



Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

Oleh: Taufiq Ismail

    “Tadi siang ada yang mati,
    Dan yang mengatar banyak sekali
    Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
    Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
    Sampai bensin juga turun harganya
    Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
    Mereka kehausan dalam panas bukan main
    Terbakar mukanya diatas truk terbuka
    Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
    Biarlah sepuluh ikat juga
    memang sudah rejeki mereka
    Mereka berteriak kegirangan dan berebutan
    Seperti anak-anak kecil
    Dan memyoraki saja. Betul bu, menyoraki saja
    ‘Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!’
    Dan ada yang turun dari truk, bu
    Mengejar dan menyalami saja
    ‘Hidup rakyat!’ teriaknya
    Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
    ‘Hidup pak rambutan!’ sorak mereka
    ‘Terima kasih pak, terima kasih!
    Bapak setuju kami, bukan?’
    Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
    ‘Doakan perjuangan kami, pak!’
    Mereka naik truk kembali
    Masih meneriakkan terima-kasihnya
    ‘Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!’
    Saya tersedu, bu. Belum pernah seumur hidup
    Orang berterimakasih begitu jujurnya
    Pada orang kecil seperti kita”.





Saturday, February 1, 2014

Internet, Sumber Referensi Yang Paling Ultimate

Oleh: Helmi Junaidi





Saya kadang membaca orang ngetwit yang meremehkan google (internet) sebagai sumber referensi. Lho?? Ini aneh sekali. Internet kalau menurut saya adalah sumber referensi yang paling ultimate dan up-to-date. Tak bisa disaingi perpustakaan tradisional. Semenjak ada internet dan punya ensiklopedi digital saya sudah tak pernah lagi pergi ke perpustakaan biasa. Internet jauuuhh lebih lengkap ketimbang perpustakaan. Buku-buku Darwin bahkan semuanya ada di internet, buku Wallace juga, suatu hal yang takkan kita temui di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.

Jadi, jangan ada yang meremehkan internet. Tentu asal kita pandai memilah-milah sumber yang ada disana. Bukan sumber yang ditulis anak SD atau sumber ngawur lainnya. Kita bisa mencari dan memilih sumber yang baik dan kredibel. Kalau buku-buku digital bisa Anda buka antara lain Project Gutenberg yang menyediakan lebih dari 42.000 ebooks gratis, bisa download atau dibaca online. Hampir semua buku termasyhur karya penulis termasyhur ada di sana. Masih ada juga beberapa website lain yang berisi ebook gratis. Jadi, kalau ada yang meremehkan sumber di internet gara-gara ada sebagian tulisan yang ngawur disana, itu artinya dia sendiri yang tak pandai memilah-milah sumber yang ada. Apa lantas kalau kita pergi ke perpustakaan semua buku yang ada di sana bermutu juga? Tentu tidak.

Sebelum ada internet, saya dulu tak pernah membaca artikel majalah NatGeo, Science dan sebagainya. Juga tak bisa baca NYT, The Guardian, Al-Jazeera, BBC dan sebagainya. Sekarang ada tinggal klik saja. Tinggal follow di twitter dan kalau muncul artikel yang menarik tinggal klik. Sangat gampang dan mudah. Dulu sangat sulit mencari referensi. Karena itu, sekali lagi, bila ada yang meremehkan sumber di internet itu artinya dia sendiri yang oon tak pandai memilah dan memilih sumber yang baik. Yang perlu kita pertanyakan memang bukan apakah sumber itu hasil googling atau tidak, tapi yang perlu kita pertanyakan adalah sumber tersebut kredibel atau tidak. Kredibel tidaknya suatu sumber tentu bisa kita kroscek dengan cara membandingkannya dengan berbagai sumber lainnya. Hal itulah yang harus kita lakukan.

Jakarta, 27 Januari 2014