Monday, June 16, 2014

Hawa Tidak Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam

Oleh: Helmi Junaidi


 
Selama ini Hawa diyakini oleh umat Islam diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Sebenarnya al-Quran tidak pernah sekalipun menyebut nama Hawa. Tidak ada nama Hawa di dalam al-Quran. Boleh silakan search sendiri di program al-Quran digital yang mana pun. Ketik kata Hawa dan dijamin hasilnya nihil. Al-Quran juga tidak pernah sekalipun menyebutkan bahwa perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Ayat al-Quran yang dijadikan landasan bagi penafsiran bahwa perempuan (Hawa) itu berasal dari tulang rusuk laki-laki (Adam) itu antara lain adalah surat 4, An-Nisa ayat 1. Ayat tersebut berbunyi:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً *

“Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri (dzat) yang satu dan menciptakan darinya pasangannya. Dan dari dari dua jenis yang berbeda itu Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

Ayat ini tidaklah menyebutkan bahwa perempuan itu berasal dari tulang rusuk laki-laki, dan di dalam al-Quran memang tidak ada satu pun ayat yang berbunyi semacam itu. Ayat ini sebenarnya menyatakan bahwa manusia itu berasal dari diri (dzat hidup)[1] yang mulanya adalah satu, kemudian dari dzat hidup yang satu itu Tuhan menjadikan darinya pasangannya. Perlu diperhatikan di sini bahwa nafs wahidah adalah kata muannats (wanita/feminin) dan kata gantinya adalah haa (kata ganti untuk wanita) dan bukan hu (kata ganti untuk laki-laki)[2] sehingga yang dimaksud dengan nafs wahidah di sini tidak bisa ditafsirkan sebagai Nabi Adam sebab beliau adalah orang laki-laki, bukan perempuan. Seandainya yang dimaksud pada ayat ini memang adalah Nabi Adam, tentunya menggunakan kata mudzakar (laki-laki/maskulin) dan kata gantinya adalah hu. Bisa kita lihat kata selanjutnya di ayat tersebut wa khalaqa minhaa zaujahaa di mana kata nafs wahidah semuanya menggunakan kata ganti muannats (feminin). Jadi, yang dimaksudkan dengan nafs wahidah di sini memang bukanlah Nabi Adam yang berjenis kelamin laki-laki, melainkan dzat hidup yang satu. Dari dzat yang satu itulah perempuan, dan juga laki-laki, kemudian diciptakan. Dan ayat ini sama sekali tidak berkisah tentang penciptaan Nabi Adam dan Hawa, tetapi mengenai proses penciptaan seluruh umat manusia.

Digunakannya kata muannats pada ayat di atas mungkin disebabkan karena dzat tersebut mempunyai kemampuan untuk bereproduksi. Dalam proses reproduksi, yang mempunyai peranan paling besar adalah kaum perempuan. Karena itu, walaupun dzat yang mula-mula itu tidak bisa ditentukan jenis kelaminnya, ia disebut dengan menggunakan kata muannats karena mempunyai kemampuan bereproduksi yang cenderung kepada sifat wanita. Untuk mempermudah pengertian dzat yang satu ini mungkin bisa diartikan sebagai mahluk bersel satu yang melakukan reproduksi dengan cara membelah diri. Dan bukankah proses kelahiran manusia itu sendiri seolah-olah seperti sebuah proses pembelahan diri, di mana satu individu menjelma menjadi dua individu? Tak jauh berbeda dengan proses pembiakan bakteria yang paling sederhana. Benar-benar tidak jauh berbeda! Sebenarnya, dalam proses reproduksi sel jantan dapat digantikan oleh perantara fisis atau kimiawi. Hanya unsur betina yang penting. Dengan teknik-teknik yang tepat, suatu individu baru dapat dihasilkan dari sel telur yang tidak dibuahi, tanpa intervensi unsur-unsur jantan. Hal ini sudah pernah dibuktikan dalam percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Bataillon dan Jacques Loeb.[3]

Penjelasan selanjutnya mengenai asal-usul mahluk hidup menurut ilmu biologi modern ini bisa dilihat pada bab berikutnya. Menurut ilmu biologi modern, asal-usul semua mahluk hidup adalah berasal dari senyawa-senyawa kimia organik yang kemudian membentuk dzat hidup pertama yang masih belum bisa ditentukan jenisnya. Cara mereka untuk bereproduksi masih sederhana sekali. Setelah berkembang menjadi lebih kompleks barulah mahluk hidup itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Inilah kiranya yang dimaksud pada ayat di atas. Jadi, perempuan sama sekali bukan berasal dari tulang rusuk laki-laki, tetapi berasal dari dzat yang sama dengan laki-laki dan kemudian dzat tersebut berkembang dan terbagi menjadi dua jenis kelamin yang berbeda. Dan kata ganti humaa yang terdapat pada ayat di atas tidaklah berarti Nabi Adam dan Hawa, tetapi dua jenis kelamin yang berbeda. Jadi, penafsiran yang menyebutkan bahwa perempuan itu berasal dari tulang rusuk laki-laki sama sekali tidak tepat, baik bila ditinjau menurut ilmu tata bahasa Arab maupun ilmu biologi. Penafsiran semacam itu adalah pengaruh dari cerita Israiliyat, dan bukan ajaran Islam.

Sementara itu, di dalam tafsir al-Maraghi juga disebutkan bahwa pembaharu Islam dari Mesir, Muhammad Abduh, juga tidak menyetujui penafsiran yang menyatakan bahwa Nabi Adam itu bapak seluruh umat manusia.

Al-Ustadz al-Imam (Muhammad Abduh) juga menyatakan bahwa makna lahiriyah nash bukan menunjukkan bahwa yang di maksud dengan satu jiwa (nafs wahidah, pnl.) itu adalah Nabi Adam karena dua alasan berikut ini:

Penyelidikan ilmiah dan sejarah (arkeologi) yang bertentangan dengan pengertian tersebut.

Di dalam ayat dikatakan rijalan katsiran wa nisaa’an (laki-laki dan perempuan yang banyak) bukannya ar-rijal wan-nisa’ (laki-laki dan perempuan).[4]

Adapun mengenai ayat yang ditujukan kepada umat manusia, yaitu: (yaa bani Adam) tidak cukup dijadikan alibi bahwa semua umat manusia berasal dari Nabi Adam. Sebab, pengertian dari ayat tersebut cukup jika ditujukan kepada orang-orang yang dimaksud pada masa diturunkannya al-Quran (ashrut tanzil) dari kalangan anak-anak Adam.[5]

Jadi, sebenarnya pendapat bahwa Adam bukan bapak seluruh umat manusia itu juga sudah dikemukakan oleh Muhammad Abduh lebih dari seratus tahun yang lalu. Hanya saja, selama ini memang tidak begitu diperhatikan oleh umat Islam. Di sini Muhammad Abduh nampaknya berpendapat bahwa Nabi Adam itu hanyalah bapak sebagian umat manusia, yaitu masyarakat yang tinggal di sekitar Timur Tengah karena Nabi Adam memang tinggal di sekitar wilayah tersebut ribuan tahun yang lalu. Dengan demikian, memang sangat besar kemungkinan bahwa orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah tersebut adalah keturunan dari Nabi Adam–atau paling tidak banyak di antaranya--sebab walaupun mungkin saja Nabi Adam bukan berasal dari bangsa Semit, tetapi telah terjadi percampuran antara bangsa Semit dan bangsa-bangsa lainnya karena mereka memang tinggal berdekatan. Dan Timur Tengah itu memang wilayah tempat bercampur baurnya segala bangsa.


Yogyakarta - 1997




[1] Kata nafs tidak hanya bisa berarti diri atau orang tetapi juga dzat, jasad, ruh atau jiwa. Lihat Al-Munawwir, hlm. 1545. Lihat juga Attabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab –Indonesia, (Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1996), hlm. 1932, 926 dan 712.
[2] Dalam bahasa Inggris haa sama artinya dengan her dan hu dengan him/his.
[3] Alexis Carrel, Misteri Manusia, terj. Kania Roesli dkk., (Bandung: Remadja Karya, 1987), hlm. 85.
[4] Al-Maraghi, Juz 4, hlm. 317.
[5] Ibid.

Women Not Created from Men’s Rib

By: Helmi Junaidi





Most muslims believe that Eve was created from Adam’s rib. Actually al-Quran never mention the word Eve and never once mention that she was created from Adam’s rib. Al-Quran verse which is used as the basis for such interpretation is An-Nisa’ verse 1.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً *

“O mankind! Obey your Lord who created you from one self (essence of life) and from it created its mate. And from the two (different sexes) proliferated many men and women“.

This verse does not mention that women is created from men’s rib, and there is no single verse in the Quran that mention it. This verse actually states that all living things created from nafs wahidah, one self (essence of life), and from that essence of life God created its mate. It should be noted that the word nafs wahidah is muannats (feminine) and use haa (female pronoun) rather than hu (male pronoun), so nafs wahidah cannot be interpreted as Adam because it is feminine, not masculine. If this verse refers to Adam, it would use mudzakar (masculine) word and its pronoun is hu. (In English, hu = his and  haa = her). So, nafs wahidah is not Adam but one self and both women and men created from it. And this verse do not tell the creation of Adam and Eve, but about the creation of all living things. (See Al-Munawwir dictionary, p. 1545 about nafs meaning. See also Kamus Kontemporer Arab –Indonesia, Yogyakarta, Yayasan Ali Maksum, 1996, p. 1932, 926 and 712).

The above verse use muannats perhaps because the essence has the ability to reproduce. In reproduction process, women has greater role. Therefore, although the essence cannot be determined its sexes, it is called by using muannats because it has the ability to reproduce, the characteristics found in women. To make it easy, the essence might be interpreted as a single-celled creature that reproduce by divides itself. And human birth process itself seems like a binary fission in bacteria, in which one individual divides into two individuals. Not much different from reproduction process of the simplest bacteria. Really not much different! In fact, in reproduction process the male reproductive cells can be replaced by physical or chemical agents. Only the female element is important. With appropriate techniques, a new individual can be produced from egg cells that are not fertilized, without the intervention of male elements. This has been proved in experiments carried out by Bataillon and Jacques Loeb. (Alexis Carrel, Misteri Manusia, terj. Kania Roesli dkk., Bandung, Remadja Karya, 1987, p.85). 

Further explanation about the origin of life according to modern biological sciences can be seen in the next chapter. According to modern biology, all living things originated from organic chemistry compounds which then formed the first essence of life. Their way to reproduce were very simple. After developing into more complex creatures then divided into two sexes, male and female. So, women were not created from men’s rib, but created from the same essence of life as men, and then developed and divided into two different sexes. And humaa pronoun in the verse does not mean Adam and Eve, but the two sexes. Thus, the interpretation which states that women were created from men’s rib has no basis at all, either viewed according to Arabic grammar or biological science. Such interpretation because the influences of Israiliyat story (Biblical story), but not found in the al-Quran.

Al-Maraghi also mentioned that the Egyptian Islamic reformer, Muhammad Abduh, disagreed with the interpretation that states Adam is the father of all mankind.

Al-Ustadz al-Imam (Muhammad Abduh) also stated that the meaning of the texts do not show that one self (nafs wahidah.) is Adam because of two following reasons:

Scientific investigation and historical (archaeological) that contradict it.

The verse says rijalan katsiran wa nisaa’an (many men and women) and not ar-rijal wan-nisa’ (a man and a woman).

As for the verses address to mankind, namely children of Adam (yaa bani Adam) we cannot make it as a reason that all mankind descend from Adam. Therefore, this verse refers to the people to whom al-Quran revealed (ashrut tanzil), from the children of Adam. (Al-Maraghi, Juz 4, hlm. 317).

The interpretation that Adam is not father of all mankind had been stated by Muhammad ‘Abduh more than a hundred years ago. But most muslims do not notice it. Muhammad Abduh seemed to believe that Adam is only father of some human race, the people who live in the Middle East because Adam lived there some thousand years ago. Thus, it is highly probable that the people who live around the area are descendants of Adam, or at least many of them. Perhaps Adam was not a Semit, but his children married with Semitic peoples and other nations who lived nearby. And the Middle East is a place where many nations intermingle.

Yogyakarta-Central Java, 1997.

Thursday, May 8, 2014

Bermain Keyboard dengan Smartphone

Oleh: Helmi Junaidi






Sebenarnya sudah sejak tahun 2000 saya punya ide ini. Belum pernah saya tulis karena ini tentang alat musik dan saya ini bukan pemusik profesional. Saya kan cuma pemusik amatiran saja, bermain alat musik cuma untuk menghibur diri sendiri. Tahun 2000 saya baru punya komputer OS Windows, saat itu rata2 orang masih pakai Windows 98. Nah, saat mulai pakai windows itu tentunya banyak program yang bisa diinstal, salah satunya mini piano. Ada gambar piano di monitor dan saat kita pencet tombol keyboard komputer, maka piano berbunyi. Cuma dua oktaf kalau tak salah.

Saya lalu berpikir, andai saja ada program piano yang full 6 oktaf dan ada keyboard khusus yang persis piano standar yang dipakai main musik, maka kita bisa bermain piano di komputer. Kalau keyboard saja kan lebih murah dibanding harga piano.

Bertahun-tahun kemudian, sekitar tahun 2007 saya tahu ada alat bernama controller. Astaga, alat yang saya inginkan sudah ada yang bikin sekarang. Cuma kecil banget. Kalau main pakai controller jari-jemari mesti himpit-himpitan karena tuts yang sangat kecil dan sempit. Cuma tiga oktaf pula.

Ada juga katanya controler yang lebih besar harganya sekitar Rp 1 juta dengan 5 oktaf. Fungsi controller itu pun bukan untuk bermain piano, tapi untuk memasukkan nada-nada ke program musik. Makanya namanya controller, bukan keyboard. Jadi, walau kemudian sudah ada alat semacam itu, yang saya inginkan sejak tahun 2000 itu belum sepenuhnya terkabul.

Nah, di Jakarta kemudian saya pernah menonton latihan musik di suatu studio. Saya lihat pemain keyboardnya pakai dua buah keyboard. Salah satunya yang ditaruh di sampingnya sampai bertumpuk dua keyboard. Ribet sekali. Lalu saya tanya kenapa begitu. Jawabnya karena tak semua jenis suara ada di keyboard yang satu saja. Di sini ada suara begini, disatunya tak ada. Di sana ada suara begitu, di satunya tak ada. Padahal dia butuh semua suara tersebut.

Bila saja ada program piano yang lengkap dengan segala jenis suara, dengan keyboard yang besarnya persis piano standar, maka semua bisa menjadi ringkas saja. Yang saya inginkan adalah program piano yang lengkap segala jenis suara, lalu kita sambung keyboard standar lewat USB ke komputer. Jreng.

Sudah begitu saja. Cukup beli programnya, dan lalu beli keyboard. Harganya tentu akan jauh lebih murah dibanding harga keyboard. Berapa harga keyboard Roland sekarang, apalagi Korg? Ihiks... belasan juta atau lebih, tergantung tipenya. Muaahal bok. Karena peralatan elektroniknya terletak di dalam keyboard itu juga, maka kalau bawa keyboard konvensional itu mesti berhati-hati tenan. Kalau yang saya inginkan malah keyboard yang bisa dilipat. Kan tak ada peralatan elektronik apa-apa di dalamnya.

Sedangkan kalau programnya, misalnya harga resmi, bisa dijual seharga Sibelius atau Nuendo. Harganya program-program musik tersebut sekitar sama dengan harga resmi MS Office atau Corel Draw. Jauh sekali bukan dengan harga keyboard Roland, apalagi Korg. Kalau pingin tambah suara,  maka tinggal tambah add-on saja. Beres. Tak usah nambah keyboard yang ribet dan mahal.

Kita buat juga versi kecilnya untuk smartphone. Smartphone sekarang memorinya sudah lumayan juga, rata-rata 16 Gb. Jadi, kita bisa main keyboard dengan smartphone. Tentu pakai keyboard ukuran standar yang sama dengan versi untuk komputer. Untuk latihan anak-anak atau bermain santai kan lumayan. Kalau ingin disambung ke komputer juga bisa. Nanti di produk tersebut disertakan program yang untuk smartphone dan komputer. Kalau yang ini versi untuk pemain amatir dan anak-anak saja sehingga jenis suaranya lebih sedikit.

Kalau untuk yang profesional pakai yang versi komputer tadi karena jenis suara yang ada lebih lengkap. Enak kan, kemana-mana cukup bawa laptop dan keyboard yang bisa dilipat. Enteng dan murah. Keyboard kebanting-banting juga gak apa-apa karena tak ada peralatan elektronik di dalamnya. Yang mesti di amankan cuma laptopnya saja yang ukurannya relatif kecil. Untuk yang versi pemain profesional ini disertakan juga program yang untuk smartphone karena siapa tahu dia suatu saat membutuhkannya. Pemain profesional kan sesekali bermain santai dengan keluarganya juga. Hanya saja yang program versi smartphone lebih terbatas jenis suaranya.

Jadi, kedua jenis produk tersebut, baik yang untuk profesional dan yang bukan nanti sama-sama bisa dipakai untuk smartphone dan komputer, tetapi yang untuk smartphone jenis suara yang ada lebih sedikit. Karena smartphone  memorinya lebih sedikit pula.

Bagi yang belum tahu rupa controller silakan lihat di link ini. Harga controler yang kecil adalah Rp 500 ribu sedangkan yang besar Rp 1,5 juta. Produksinya terbatas hanya untuk kalangan pemusik saja. Jarang yang beli sehingga biaya produksinya mahal. Itu pun masih jauh lebih murah ketimbang piano semacam Roland atau Korg.

Tapi, yang saya inginkan bukan controller yang fungsinya untuk menulis nada, melainkan keyboard khusus dengan program khusus untuk bermain musik. Saya hanya ingin Anda tahu perkiraan harganya saja. Kalau keyboard khusus untuk smartphone itu bisa diproduksi massal karena untuk semua orang, termasuk pemusik amatiran dan anak-anak yang ingin belajar keyboard. Jadi, harganya bahkan bisa lebih murah ketimbang controller.

Kalau untuk saya pribadi terutama adalah yang programnya bisa diinstal di smartphone. Murah meriah. Speaker aktif included di keyboard juga, harga speaker kan murah. Jadi, tinggal colokkan kabel data ke ke smartphone, colokkan jack ke speaker aktif, bunyi sudah.

Versi smartphone ini untuk pemain amatiran, latihan anak-anak kecil yang belajar piano atau pemain semi pro yang main di kampung-kampung misalnya. Untuk mereka kan tak perlu keyboard yang mahal. Yang murah meriah saja. Sedangkan yang versi lebih mahal dan lengkap untuk pemain pro.

Nah, kalau yang keyboard plus smartphone ini murni ide saya. Belum pernah ada. Yang ada kan program yang di  komputer saja. Karena itu nanti diproduksi di Indonesia saja sehingga bangsa Indonesia akan dikenal sebagai bangsa yang berestetika. :p Lumayan bisa untuk menyerap tenaga kerja di sini juga.

Keyboard bisa pakai batere sehingga bisa mobile. Nanti dibuat juga model yang bisa dilipat. Tidak ada peralatan elektronik apa-apa di dalamnya sehingga bisa dibuat model semacam itu. Mesinnya kan terletak di smartphone. Bisa mudah dibawa kemana-mana. Ringkas, enteng dan mobile. Di keyboard tersebut diberi sandaran atau lekukan, tempat khusus untuk menaruh smartphone.

Yang paling penting ukuran tuts standar. Bunyinya standar sudah bagus juga. Bila ada keyboard yang murah meriah, maka semua orang nanti akan bisa bermusik dengan murah meriah juga. Saya kira banyak juga orang atau anak-anak kecil yang ingin main atau belajar keyboard tapi tak punya alat musiknya. Mahal harganya, berjuta-juta. Sedangkan smartphone sekarang banyak orang yang punya. Yang Rp 750 ribuan ada.

Yang belum punya
smartphone silakan beli dulu. Lalu beli keyboard khusus tersebut dan colokkan ke smartphone. Bagi yang sudah punya smartphone langsung plug and play saja. Let the music play...


Jakarta, 2 Mei 2014.

Saturday, May 3, 2014

Population Problems


As early as 1798 Thomas Robert Malthus, an English economist, expressed his opinion about the rapid growth of the world's population in his "Essay on the Principle of Population".  He stated that population  increased  in  a geometrical ratio  (2, 4, 8, 16, 32….) while subsistence (and employment) increased only in an arithmetical ratio (2, 4, 6, 8, 10….). Consequently, unless  there  were  checks on the growth of the population, a dearth of material for subsistence (and employment) would soon prevail. All plans for social reform would be in vain unless they included a lowering of the birthrate.

It is now nearly 200 years since Malthus' views were first published, and even though science and technology have advanced far and been very successful in increasing subsistence, there is still no certainty about the future unless population growth is checked: "Zero population growth" has become a popular motto in campaigns for family planning and birth control.

In 1930 Indonesia had a population of 60 million; in 1954 it was 81 million; the present estimate is about 150 million. The average annual rate of increase is around 2.2 percent. If the population continues to grow at this rate, in the year 2000 we will have a population of over 200 million.

To get an idea of how enormous and complex the problems are, let us suppose that the population increases by 2 per cent per year. That means about three million more people each year, which means that each year there will be three million more people to be fed, housed, clothed, and educated; in short, to be taken care of. Cities will grow larger and larger, streets will be more and more crowded, unemployment rate will become higher and higher.

There will be more cars, more motorcycles, and consequently accidents will be more likely to happen. As peoples' needs in­crease, so industries will grow up to produce the things needed for building roads, houses, and cars; for making clothes, food­stuffs and so on. However, besides its positive as a producer of goods and employer of labour, industry has an undesirable side effect. It is a source of pollution. It pollutes the air, the soil, the water in wells and rivers, and even the sea. Legislative measures should be taken to prevent, or at least mininize pollution.

It is, therefore, of the greatest importance that population growth be checked. To do this it is necessary to know its causes. They are a high .birthrate and a low death rate. Of course, if the death rate is low, it should not be tampered with; it is, in fact, the result of better living conditions, and better medical care. Thus there is no alternative but to lower the birthrate, by en­couraging birth control. The government's campaign for birth control must succeed. If it does not, all ourplans and all our efforts to improve the nation's prosperity will be in vain.

Source: Bahasa Inggris 3a untuk SMA, Jakarta, Balai Pustaka, 1989.

Wednesday, March 12, 2014

Rute Kopaja


Kopaja (Koperasi Angkutan Jakarta) adalah bus semacam Metromini, hanya saja warnanya hijau putih. Berikut ini rutenya:

Kopaja 19 : Pasar Minggu – Blok M – Tanah Abang
Kopaja 20 : Lebak Bulus – Rasuna Said – Senen
Kopaja 27 : Senen – Kelapa Gading
Kopaja 502 : Kampung Melayu – Tanah Abang
Kopaja 57 : Blok M – Kampung Rambutan
Kopaja 602 : Tanah Abang – Ragunan
Kopaja 605 : Blok M – Ampera – Kp. Rambutan
Kopaja 605A : Blok M- Ampera – Cilandak – Ragunan
Kopaja 608 : Blok M -Tanah Abang
Kopaja 609 : Blok M – Meruya
Kopaja 612 : Kp.Melayu – Ampera – Ragunan
Kopaja 613 : Blok M – Kebayoran Lama – Ulujami – Bintaro
Kopaja 614 : Pasar Minggu – Blok M – Kebayoran Lama – Cipulir
Kopaja 615 : Lebak Bulus – Blok M – Tanah Abang
Kopaja 616 : Blok M – Cipedak
Kopaja 620 : Blok M – Rasuna Said – Pasar Rumput
Kopaja 63 : Blok M – Ampera – TB Simatupang – Depok
Kopaja 66 : Blok M – Sudirman – Manggarai
Kopaja 68 : Kp. Melayu – Tebet – Pancoran – Pasar Minggu – Ragunan
Kopaja 86 : Lebak Bulus – Arteri Pondok Indah – Kota
Kopaja 88 : Slipi – Grogol – Kalideres
Kopaja 93 : Tanah Abang – Kalideres
Kopaja 95 : Grogol – Rawa Bokor
Kopaja T.624 (Bekasi): Bekasi – Delta Mas
Kopaja S.140 (Bekasi): Bekasi – Jatiasih
Kopaja S13 : Ragunan Belakang – Grogol AC

Sumber : id.wikipedia.org, kopaja44.web44.com, dengan beberapa tambahan.

Rute Angkot Jakarta

Angkot (Angkutan Perkotaan) bentuknya lebih kecil daripada bus metromini atau kopaja. Warnanya juga bervariasi, umumnya merah, biru muda, atau putih.

Angkot B01 : Grogol – Pluit – Muara Angke
Angkot B03 :Joglo – Citraland, lewat Meruya, Kedoya, Tanjung Duren.
Angkot B09 : Garden – Kreo
Angkot B14 : Puri Indah – Citraland, lewat Pasar Puri, Kedoya, Terusan Arjuna, Tanjung Duren.
Angkot B17 : Kebayoran Lama – Permata Hijau – Citraland
Angkot C01 : Kebayoran Lama – Ciledug
Angkot C02 : Ciledug – Pondok Aren – Jombang
Angkot C05 : Kebayoran Lama – Ulujami – Ceger
Angkot C09 : Lebak Bulus – Bintaro – Ceger – Pondok Aren – Arinda
Angkot C14 : Lebak Bulus – Petukangan – Ciledug
Angkot C15 : Semanan – Ciledug
Angkot D01 : Kebayoran Lama – Tanah Kusir – Pondok Pinang – Lebak Bulus – Ciputat
Angkot D02 : Pondok Labu – Lebak Bulus – Ciputat
Angkot D07 : Ciputat – Pamulang – Muncul/Serpong
Angkot D08 : Ciputat – Jombang
Angkot D09 : Pd Jagung – Graha Bintaro – Parigi – Bintaro Plaza – Rempoa – Situ Gintung
Angkot D10 : Ciputat – Bintaro – Pondok Aren
Angkot D15 : Lebak Bulus – Pondok Cabe – Pamulang
Angkot D16 : Muncul – BSD – Serpong
Angkot D18 : Ciputat – Bintaro – Ulujami – Ciledug
Angkot D19 : Ciputat – Pondok Cabe – Cinere – Pondok Labu
Angkot D26 : Ciputat – Pamulang
Angkot S01 : Blok M – Pondok Labu
Angkot S02 : Pondok Labu – Ragunan – Jagakarsa – Lenteng Agung
Angkot S03 : Kebayoran Lama – Tanah Kusir – Pondok Pinang – Lebak Bulus – Pondok Labu
Angkot S06 : Mayestik/Tmn. Puring – Kebayoran Lama – Ceger
Angkot S07 : Kebayoran Lama – Pondok Aren
Angkot S08 : Lebak Bulus – Ciputat – Rempoa – Bintaro
Angkot S10 : Kebayoran Lama – Velbak – Seskoal – Peninggaran – Tanah Kusir
Angkot S10 : Ciputat – Bintaro *kok ada 2 ya??*
Angkot S11 : Lebak Bulus – Fatmawati – Pasar Minggu
Angkot S12 : Lebak Bulus – Bona Indah – Ragunan
Angkot S14 : Lebak Bulus – Pondok Pinang – Deplu – Bintaro – Petukangan
Angkot S15 : Pasar Minggu – Cijantung
Angkot S15A : Taman Mini – Ragunan
Angkot S16 : Pondok Labu – Depok
Angkot T05 : Cililitan – Setu
Angkot T07 : Cililitan – Condet
Angkot T11 : Cililitan – Mekarsari
Angkot T19 : Taman Mini – Kp. Rambutan – Depok
Angkot T27 : Rawamangun – Kalimalang
Angkot U10 : Sunter – Mangga Dua – Kota
Angkot M01/M01A : Kampung Melayu – Pasar Senen
Angkot M02 : Kampung Melayu – Pulo Gadung
Angkot M04 : Rawasari – Cililitan
Angkot M06/M06A : Kampung Melayu – Gandaria
Angkot M09 : Tanah Abang – Kebayoran Lama
Angkot M09A : Tanah Abang – Kampung Baru
Angkot M10 : Tanah Abang – Jembatan Lima
Angkot M11 : Tanah Abang – Meruya
Angkot M12 : Kota – Gunung Sahari – Senen
Angkot M15A : Kota – Mangga Dua – Ancol – Tanjung Priok
Angkot M16 : Kampung Melayu – Pasar Minggu
Angkot M18 : Kampung Melayu – Kali Malang – Pondok Gede
Angkot M19 : Cililitan – Klender Bekasi
Angkot M20 : Pasar Minggu – Ragunan – Ciganjur
Angkot M23 : Karet – Manggarai
Angkot M26 : Kampung Melayu – Bekasi
Angkot M27 : Kampung Melayu – Pulo Gadung
Angkot M28 : Kampung Melayu – Cawang – Pondok Gede
Angkot M29 : Cililitan – Kranji
Angkot M31 : Kampung Melayu – Pondok Kelapa
Angkot M32 : Kampung Melayu – Perumnas Klender
Angkot M38 : Grogol – Bendungan Hilir
Angkot M39 : Kota – Mangga Dua – Pademangan
Angkot M44 : Kampung Melayu/Stasiun Jatinegara – Ambassador Mall/Casablanca – Karet
Angkot M48 : Kalideres – Cipulir
Angkot 461 : UKI cawang – Pondok Gede
Angkot JP03 (APB) : Bendungan Hilir – Roxy
Angkot JP03A : Karet – Tanah Abang – Roxy
Angkot JS01 : Mayestik – Kostrad – Kemandoran
Angkot JS01A : Blok A – Tarogong – Kecamatan Cilandak
Angkot JS02A : Kampung Melayu – Kalibata

Sumber : kopaja44.web44.com dengan beberapa tambahan …

Rute Metromini Jakarta

Warga Jakarta tentu familiar dengan bus yang berwarna orange-biru ini. Untuk yang akan berpergian di dalam kota Jakarta, Metromini merupakan salah satu alternatif angkutan umum yang murah meriah. Ongkosnya cukup 2000 rupiah sekali naik, tidak peduli jauh ataupun dekat. Meskipun murah meriah, tetap saja metromini ini tidak luput dari yang namanya kemacetan. Memang, macet ini merupakan salah satu penyakit parah yang diderita Jakarta dan nggak sembuh-sembuh sampai sekarang T_T. Kapan ya sembuhnya? Berikut ini adalah rute metromini yang ada.

MetroMini 001 rute Senen – RS Islam Cempaka Putih – Taman Solo
MetroMini 003 rute Senen – Cempaka Putih – Rawamangun
MetroMini 005 rute Senen – Johar Baru – Mardani
MetroMini 007 rute Senen – Cempaka Mas – Semper
MetroMini 010 rute Senen – Kemayoran – Sunter
MetroMini 011 rute Senen – Kemayoran – Bendungan Jago
MetroMini 015 rute Senen – Sabang – Setiabudi
MetroMini 017 rute Senen – Cikini – Manggarai
MetroMini 023 rute Tanjung Priok – Cilincing
MetroMini 024 rute Tanjung Priok – Sunter – Senen
MetroMini 030 rute Kota – Pluit – Muara Angke
MetroMini 041 rute Pulo Gadung – Tugu – Tanjung Priok
MetroMini 042 rute Pulo Gadung – Penggilingan – Perumnas Klender
MetroMini 043 rute Pulo Gadung – Pondok Ungu – Seroja
MetroMini 044 rute Pulo Gadung – Penggilingan – Pulo Gebang
MetroMini 045 rute Pulo Gadung – Jatiwaringin – Pondok Gede
MetroMini 046 rute Pulo Gadung – Utan Kayu – Kampung Melayu
MetroMini 047 rute Senen – Cempaka Putih – Pondok Kopi
MetroMini 049 rute Pulo Gadung – Utan Kayu – Manggarai
MetroMini 050 rute Kampung Melayu – Duren Sawit – Perumnas Klender
MetroMini 052 rute Kampung Melayu – Buaran – Stasiun Cakung
MetroMini 053 rute Kampung Melayu – Condet – Kampung Rambutan
MetroMini 054 rute Kampung Melayu – Kalimalang – Pondok Kelapa
MetroMini 058 rute Cililitan – Pondok Bambu – Perumnas Klender
MetroMini 060 rute Manggarai – Tebet – Kampung Melayu
MetroMini 061 rute Manggarai – Bukit Duri – Kampung Melayu
MetroMini 062 rute Manggarai – Pancoran – Pasar Minggu
MetroMini 064 rute Pasar Minggu – Kalibata – Cililitan
MetroMini 069 rute Blok M – Pasar Mayestik – Velbak – Kebayoran Lama – Kreo – Ciledug
MetroMini 070 rute Blok M – Pasar Mayestik – Arteri Pondok Indah – Permata Hijau – Pos Pengumben – Joglo
MetroMini 071 rute Blok M – Pasar Mayestik -  Arteri Pondok Indah – Tanah Kusir – Kodam Bintaro
MetroMini 072 rute Blok M – Ahmad Dahlan – Radio Dalam – Pondok Indah Mall – Arteri Pondok Indah – Lebak Bulus
MetroMini 074 rute Blok M – Pasar Mayestik – Velbak – Arteri Pondok Indah – Tanah Kusir – Rempoa
MetroMini 075 rute Blok M – Mampang – Warung Buncit – Pasar Minggu
MetroMini 076 rute Blok M – Cilandak – Kampung Rambutan
MetroMini 077 rute Blok M – Mampang – Ragunan
MetroMini 078 rute Blok M – Pasar Mayestik – Kebayoran Lama – Cidodol
MetroMini 079 rute Blok M – Fatmawati – Terogong – Pondok Indah – Lebak Bulus
MetroMini 082 rute Kalideres – Kamal – Kapuk – Grogol
MetroMini 084 rute Kalideres – Pluit – Kota
MetroMini 085 rute Kalideres – Kebon Jeruk – Permata Hijau – Pondok Indah – Lebak Bulus
MetroMini 091 rute Batusari – Tanjung Duren – Citraland – Grogol – Roxy Mas – Tanah Abang
MetroMini 092 rute Joglo – Kedoya – Jalan Panjang – Daan Mogot – Grogol
MetroMini 506 rute Kampung Melayu – Klender – Pondok Kopi
MetroMini 610 rute Blok M – Cipete – RS Fatmawati – Pondok Labu
MetroMini 611 rute Blok M – Pasar Mayestik – Arteri Pondok Indah – Pondok Pinang – Pasar Jum’at – Lebak Bulus
MetroMini 619 rute Blok M – Pangeran Antasari – Pondok Labu – Cinere
MetroMini 640 rute Pasar Minggu – Pancoran – Gatot Subroto – Sudirman – Thamrin – Kebon Sirih – Tanah Abang
MetroMini 719 rute Lebak Bulus – Pondok Gede – Jatiasih
MetroMini 733 rute Blok M – Bintara – Kranji
MetroMini 783 rute Kampung Melayu – Kalimalang – Cibubur – Cileungsi
MetroMini 789 rute Perumnas Klender – Pulo Gadung – Harapan Indah
MetroMini 792 rute Perumnas Klender – Pondok Kelapa – Bekasi
MetroMini 811 rute Blok M – Lebak Bulus – Rempoa – Bintaro

Sumber : id.wikipedia.org, kopaja44.web44.com, dengan beberapa tambahan.