Wednesday, August 27, 2014

Perahu Yang Tak Bisa Tenggelam




Anda pernah bermain bandulan? Ya, prinsip utama dari perahu ini adalah seperti yang ada pada bandulan atau pendulum atau benda-benda lain semacamnya. Sewaktu Anda bermain bandulan, walaupun terayun-ayun keras kesana kemari, pada akhirnya berhenti di bawah juga karena adanya gaya gravitasi. Mustahil setelah lama terayun-ayun lantas Anda berhenti terbalik di atas. Tidak mungkin bukan? Itu bertentangan dengan ajaran Pak Newton tentang teori buah apelnya. Demikian pula prinsip yang ada pada bullet boat ini. Tak akan pernah bisa terbalik kecuali bila Newton bangun lagi dan merevisi teori buah apelnya. Jadi, prinsip dasarnya memang sederhana saja, sekedar memanfaatkan gaya gravitasi dan tentunya ditambah beberapa buah klaker dan adanya lambung ganda (double hull).

Bullet Boat ini bisa berfungsi untuk piknik atau tim SAR karena bisa untuk bepergian melewati laut yang berombak besar. Besarnya hanya sekitar 4 kali 1 meter dan punya lambung ganda. Ada dua lambung kapal, yang di dalam berbentuk seperti perahu biasa, sedangkan yang lambung luar berbentuk bulat tertutup seperti peluru. Lambung bagian dalam tadi dimasukkan lewat buritan. Bagian buritan lambung luar bisa dibuka tutup untuk memasukkan lambung dalam tadi, mirip tutup botol begitulah. Setelah lambung dalam dimasukkan, maka bagian buritan lambung luar tadi ditutup rapat-rapat kembali dengan mur baut yang panjang supaya kuat. Pada bagian depan kapal, kedua lambung ini dikaitkan dengan as supaya bisa bergulir, seperti yang ada pada roda. Pada buritan cukup ditekan rapat-rapat dengan mur baut yang panjang saja tadi. Bagian belakang tidak bisa diberi as karena ada bagian dalam yang harus berada di luar, yakni baling-balingnya. Mesin perahu dan baling-baling memang mesti terletak pada lambung dalam tentunya, yang selalu berada di bawah, bukan lambung luar yang bisa berputar ke mana-mana. Pada bagian lambung luar dibuatkan jalur melingkar untuk baling-baling tersebut sehingga bisa tetap mengikuti posisi lambung bagian dalam. (Lihat gambar bagian belakang). Diberi klaker juga tentunya, kalau ini klaker yang biasa saja, dan sambungan antara lambung luar dan lambung dalam di buritan tersebut tersebut sebaiknya dibuat waterproof. Bentuk bagian belakang ini lihat gambar.

Pada bagian lambung yang dalam, bagian bawahnya yang bersentuhan dengan lambung luar diberi lonjongan-lonjongan besi. Semacam klaker tetapi lonjong. Untuk mudahnya, bayangkanlah misalnya beberapa buah pensil yang dijejer rapat dibawah tempat pensil. Jadi, seperti itu kira-kira bentuk dan susunan lonjongan besinya. Diameternya lonjongan besinya bisa sekitar 2,5 cm atau 3 cm supaya cukup kuat, dengan panjang sekitar 30 cm. Atau tergantung hasil uji coba nanti.

Klaker ini tidak perlu terlalu licin banget karena fungsinya tidak seperti pada roda mobil yang harus berputar kencang. Sebaliknya, malah perlu dibuat agak seret supaya lambung perahu bagian dalam nanti bisa lebih stabil. Mungkin tutup luarnya bisa dari karet. Nanti juga perlu diberi semacam “rem”, ini fungsinya bila kita ingin menyatukan kedua lambung tersebut dan menghentikan gerakan klaker, bila laut sedang tenang misalnya, atau juga untuk membantu membuat perahu lebih stabil. Atau apakah seandainya lonjongan besinya dibuat jarang (tidak rapat) akan bisa membuatnya lebih seret? Bila demikian mungkin perlu dibuat rancangan semacam itu. Hanya perlu sekitar 6 batang tiap-tiap klaker yang diberi lubang penyangga di ujung-ujungnya, jadi bersifat tetap pada tempatnya. Bisa bergulir tapi tak bisa bergeser ke sana kemari. Walau tidak persis benar, untuk gampangnya bayangkanlah dulu misalnya bentuk roda tank.

Karena antara kedua lambung tersebut ada klakernya, maka yang berputar terhantam ombak hanya lambung yang bagian luar, sedangkan bagian dalam yang berbentuk perahu, yang kita naiki itu, cukuplah sekedar berayun-ayun seperti bandulan. Tak akan pernah bisa sampai terbalik. Dan bila sedang ada badai besar penumpangnya malah bisa ketiduran, keenakan terayun-ayun. Penumpangnya bisa satu atau dua yang duduk di belakangnya.

Model kakinya seperti seaplane, tetapi tidak persis benar karena berbentuk bulat, tidak seperti yang ada pada seaplane yang agak pipih. Ini karena posisi lambung luar yang nanti bisa berputar-putar sehingga kaki itu harus bulat bentuknya, atau lebih tepatnya berbentuk lonjoran panjang yang ujung depannya berbentuk seperti peluru juga, supaya streamline. Kakinya ada empat, jadi biarpun menggelundung kesana kemari terkena ombak besar, perahu akan tetap berdiri tegak di atas dua kaki. Ini nanti lajunya bisa cepat sekali karena gesekannya dengan permukaan air sangat minimal. Jadi lambung perahu tidak menyentuh air. Meski demikian, ini tidak seperti hydrofoil karena biarpun dalam kondisi berhenti lambung kapal tetap tak menyentuh air. Kalau hydrofoil kan waktu berhenti menyentuh air. Bisa dikatakan ini lebih menyerupai catamaran, perahu yang desainnya diilhami oleh perahu-perahu di wilayah Pasifik, termasuk Indonesia. Dan kita tahu bahwa meskipun ukurannya hanya beberapa meter saja, perahu semacam ini semenjak berabad yang lalu telah memungkinkan nenek moyang bangsa Melayu-Polinesia menjelajahi segala penjuru Samudra Pasifik. Mengingat ukuran perahu ini hanya sekitar seaplane saja, bahkan lebih ringan, maka memang bisa selalu dibuat mengapung sedemikian rupa, katakanlah sekitar 15 cm atau 20 cm dari permukaan air. Asal sekedar lambung tengah kapal tak menyentuh air itu sudah cukup. Kalau sekedar kecipratan dikit ya tidak apa-apa.

Saya membuat juga model lain yang kakinya berbentuk segitiga, kaki tersebut bagian ujung depannya menyempit seperti bentuk kapal, untuk mengiris air sehingga lajunya bisa cepat. Model ini lambungnya sepenuhnya bersentuhan dengan air, atau bila kaki itu dibuat agak panjang ya hanya menyentuh air sedikit saja. Desain yang ini bisa untuk kapal yang lebih besar seperti kapal feri misalnya. Tapi kalau untuk kapal feri dikunci saja klakernya dan baru dibuka saat kapal sudah berada dalam keadaan bahaya, miring hingga di atas 45 derajat. Nah, saat kapal miring itulah kunci klaker dibuka dan kapal feri pun akan bisa kembali ke posisi tegak seperti semula. Selamat deh semuanya, tak jadi tenggelam. Bila hal ini bisa diaplikasikan, maka akan bisa menyelamatkan banyak nyawa karena tiap tahun selalu saja ada berita kapal feri yang tenggelam karena terbalik.

Desain ini hanya sekedar gambaran kasarnya, bisa saja nanti mengalami revisi-revisi sesuai hasil uji coba di lapangan. Tetapi, untuk sementara ya seperti ini dulu. Bila ada yang tertarik bekerja sama bisa hubungi ke email: helmijun@gmail.com atau pesan di facebook.

14 November 2007