Thursday, May 8, 2014

Bermain Keyboard dengan Smartphone

Oleh: Helmi Junaidi






Sebenarnya sudah sejak tahun 2000 saya punya ide ini. Belum pernah saya tulis karena ini tentang alat musik dan saya ini bukan pemusik profesional. Saya kan cuma pemusik amatiran saja, bermain alat musik cuma untuk menghibur diri sendiri. Tahun 2000 saya baru punya komputer OS Windows, saat itu rata2 orang masih pakai Windows 98. Nah, saat mulai pakai windows itu tentunya banyak program yang bisa diinstal, salah satunya mini piano. Ada gambar piano di monitor dan saat kita pencet tombol keyboard komputer, maka piano berbunyi. Cuma dua oktaf kalau tak salah.

Saya lalu berpikir, andai saja ada program piano yang full 6 oktaf dan ada keyboard khusus yang persis piano standar yang dipakai main musik, maka kita bisa bermain piano di komputer. Kalau keyboard saja kan lebih murah dibanding harga piano.

Bertahun-tahun kemudian, sekitar tahun 2007 saya tahu ada alat bernama controller. Astaga, alat yang saya inginkan sudah ada yang bikin sekarang. Cuma kecil banget. Kalau main pakai controller jari-jemari mesti himpit-himpitan karena tuts yang sangat kecil dan sempit. Cuma tiga oktaf pula.

Ada juga katanya controler yang lebih besar harganya sekitar Rp 1 juta dengan 5 oktaf. Fungsi controller itu pun bukan untuk bermain piano, tapi untuk memasukkan nada-nada ke program musik. Makanya namanya controller, bukan keyboard. Jadi, walau kemudian sudah ada alat semacam itu, yang saya inginkan sejak tahun 2000 itu belum sepenuhnya terkabul.

Nah, di Jakarta kemudian saya pernah menonton latihan musik di suatu studio. Saya lihat pemain keyboardnya pakai dua buah keyboard. Salah satunya yang ditaruh di sampingnya sampai bertumpuk dua keyboard. Ribet sekali. Lalu saya tanya kenapa begitu. Jawabnya karena tak semua jenis suara ada di keyboard yang satu saja. Di sini ada suara begini, disatunya tak ada. Di sana ada suara begitu, di satunya tak ada. Padahal dia butuh semua suara tersebut.

Bila saja ada program piano yang lengkap dengan segala jenis suara, dengan keyboard yang besarnya persis piano standar, maka semua bisa menjadi ringkas saja. Yang saya inginkan adalah program piano yang lengkap segala jenis suara, lalu kita sambung keyboard standar lewat USB ke komputer. Jreng.

Sudah begitu saja. Cukup beli programnya, dan lalu beli keyboard. Harganya tentu akan jauh lebih murah dibanding harga keyboard. Berapa harga keyboard Roland sekarang, apalagi Korg? Ihiks... belasan juta atau lebih, tergantung tipenya. Muaahal bok. Karena peralatan elektroniknya terletak di dalam keyboard itu juga, maka kalau bawa keyboard konvensional itu mesti berhati-hati tenan. Kalau yang saya inginkan malah keyboard yang bisa dilipat. Kan tak ada peralatan elektronik apa-apa di dalamnya.

Sedangkan kalau programnya, misalnya harga resmi, bisa dijual seharga Sibelius atau Nuendo. Harganya program-program musik tersebut sekitar sama dengan harga resmi MS Office atau Corel Draw. Jauh sekali bukan dengan harga keyboard Roland, apalagi Korg. Kalau pingin tambah suara,  maka tinggal tambah add-on saja. Beres. Tak usah nambah keyboard yang ribet dan mahal.

Kita buat juga versi kecilnya untuk smartphone. Smartphone sekarang memorinya sudah lumayan juga, rata-rata 16 Gb. Jadi, kita bisa main keyboard dengan smartphone. Tentu pakai keyboard ukuran standar yang sama dengan versi untuk komputer. Untuk latihan anak-anak atau bermain santai kan lumayan. Kalau ingin disambung ke komputer juga bisa. Nanti di produk tersebut disertakan program yang untuk smartphone dan komputer. Kalau yang ini versi untuk pemain amatir dan anak-anak saja sehingga jenis suaranya lebih sedikit.

Kalau untuk yang profesional pakai yang versi komputer tadi karena jenis suara yang ada lebih lengkap. Enak kan, kemana-mana cukup bawa laptop dan keyboard yang bisa dilipat. Enteng dan murah. Keyboard kebanting-banting juga gak apa-apa karena tak ada peralatan elektronik di dalamnya. Yang mesti di amankan cuma laptopnya saja yang ukurannya relatif kecil. Untuk yang versi pemain profesional ini disertakan juga program yang untuk smartphone karena siapa tahu dia suatu saat membutuhkannya. Pemain profesional kan sesekali bermain santai dengan keluarganya juga. Hanya saja yang program versi smartphone lebih terbatas jenis suaranya.

Jadi, kedua jenis produk tersebut, baik yang untuk profesional dan yang bukan nanti sama-sama bisa dipakai untuk smartphone dan komputer, tetapi yang untuk smartphone jenis suara yang ada lebih sedikit. Karena smartphone  memorinya lebih sedikit pula.

Bagi yang belum tahu rupa controller silakan lihat di link ini. Harga controler yang kecil adalah Rp 500 ribu sedangkan yang besar Rp 1,5 juta. Produksinya terbatas hanya untuk kalangan pemusik saja. Jarang yang beli sehingga biaya produksinya mahal. Itu pun masih jauh lebih murah ketimbang piano semacam Roland atau Korg.

Tapi, yang saya inginkan bukan controller yang fungsinya untuk menulis nada, melainkan keyboard khusus dengan program khusus untuk bermain musik. Saya hanya ingin Anda tahu perkiraan harganya saja. Kalau keyboard khusus untuk smartphone itu bisa diproduksi massal karena untuk semua orang, termasuk pemusik amatiran dan anak-anak yang ingin belajar keyboard. Jadi, harganya bahkan bisa lebih murah ketimbang controller.

Kalau untuk saya pribadi terutama adalah yang programnya bisa diinstal di smartphone. Murah meriah. Speaker aktif included di keyboard juga, harga speaker kan murah. Jadi, tinggal colokkan kabel data ke ke smartphone, colokkan jack ke speaker aktif, bunyi sudah.

Versi smartphone ini untuk pemain amatiran, latihan anak-anak kecil yang belajar piano atau pemain semi pro yang main di kampung-kampung misalnya. Untuk mereka kan tak perlu keyboard yang mahal. Yang murah meriah saja. Sedangkan yang versi lebih mahal dan lengkap untuk pemain pro.

Nah, kalau yang keyboard plus smartphone ini murni ide saya. Belum pernah ada. Yang ada kan program yang di  komputer saja. Karena itu nanti diproduksi di Indonesia saja sehingga bangsa Indonesia akan dikenal sebagai bangsa yang berestetika. :p Lumayan bisa untuk menyerap tenaga kerja di sini juga.

Keyboard bisa pakai batere sehingga bisa mobile. Nanti dibuat juga model yang bisa dilipat. Tidak ada peralatan elektronik apa-apa di dalamnya sehingga bisa dibuat model semacam itu. Mesinnya kan terletak di smartphone. Bisa mudah dibawa kemana-mana. Ringkas, enteng dan mobile. Di keyboard tersebut diberi sandaran atau lekukan, tempat khusus untuk menaruh smartphone.

Yang paling penting ukuran tuts standar. Bunyinya standar sudah bagus juga. Bila ada keyboard yang murah meriah, maka semua orang nanti akan bisa bermusik dengan murah meriah juga. Saya kira banyak juga orang atau anak-anak kecil yang ingin main atau belajar keyboard tapi tak punya alat musiknya. Mahal harganya, berjuta-juta. Sedangkan smartphone sekarang banyak orang yang punya. Yang Rp 750 ribuan ada.

Yang belum punya
smartphone silakan beli dulu. Lalu beli keyboard khusus tersebut dan colokkan ke smartphone. Bagi yang sudah punya smartphone langsung plug and play saja. Let the music play...


Jakarta, 2 Mei 2014.

Saturday, May 3, 2014

Population Problems


As early as 1798 Thomas Robert Malthus, an English economist, expressed his opinion about the rapid growth of the world's population in his "Essay on the Principle of Population".  He stated that population  increased  in  a geometrical ratio  (2, 4, 8, 16, 32….) while subsistence (and employment) increased only in an arithmetical ratio (2, 4, 6, 8, 10….). Consequently, unless  there  were  checks on the growth of the population, a dearth of material for subsistence (and employment) would soon prevail. All plans for social reform would be in vain unless they included a lowering of the birthrate.

It is now nearly 200 years since Malthus' views were first published, and even though science and technology have advanced far and been very successful in increasing subsistence, there is still no certainty about the future unless population growth is checked: "Zero population growth" has become a popular motto in campaigns for family planning and birth control.

In 1930 Indonesia had a population of 60 million; in 1954 it was 81 million; the present estimate is about 150 million. The average annual rate of increase is around 2.2 percent. If the population continues to grow at this rate, in the year 2000 we will have a population of over 200 million.

To get an idea of how enormous and complex the problems are, let us suppose that the population increases by 2 per cent per year. That means about three million more people each year, which means that each year there will be three million more people to be fed, housed, clothed, and educated; in short, to be taken care of. Cities will grow larger and larger, streets will be more and more crowded, unemployment rate will become higher and higher.

There will be more cars, more motorcycles, and consequently accidents will be more likely to happen. As peoples' needs in­crease, so industries will grow up to produce the things needed for building roads, houses, and cars; for making clothes, food­stuffs and so on. However, besides its positive as a producer of goods and employer of labour, industry has an undesirable side effect. It is a source of pollution. It pollutes the air, the soil, the water in wells and rivers, and even the sea. Legislative measures should be taken to prevent, or at least mininize pollution.

It is, therefore, of the greatest importance that population growth be checked. To do this it is necessary to know its causes. They are a high .birthrate and a low death rate. Of course, if the death rate is low, it should not be tampered with; it is, in fact, the result of better living conditions, and better medical care. Thus there is no alternative but to lower the birthrate, by en­couraging birth control. The government's campaign for birth control must succeed. If it does not, all ourplans and all our efforts to improve the nation's prosperity will be in vain.

Source: Bahasa Inggris 3a untuk SMA, Jakarta, Balai Pustaka, 1989.