Pages

Wednesday, May 8, 2013

Miras, Sampah Masyarakat

Oleh: Helmi Junaidi



Untuk mengawali membahas soal ini saya ingin bertanya kepada bapak-bapak, ibu-ibu, guru-guru dan para orang tua semuanya: Apakah Anda ada yang suka punya anak pemabuk? Punya anak yang suka teler di sekolah dan jalanan? Kepada para istri saya juga ingin bertanya. Sukakah Anda punya suami pemabuk, yang tiap pulang ke rumah selalu sempoyongan, meracau dan mulutnya bau alkohol? Kepada para mertua saya ingin bertanya pula. Sukakah Anda punya menantu pemabuk yang tiap malam pulang teler lalu menggebuki anak istrinya, menggebuki anak dan cucu Anda? Sukakah Anda sekalian punya anak, suami atau menantu pemabuk?

Apa jawaban Anda sekalian dengan pertanyaan di atas? Kiranya jelas, bukan? Memang banyak orang egois di dunia ini, orang lain boleh jadi pemabuk, asal jangan suami, jangan anak, jangan menantu sendiri. Pabrik dan toko miras ditutup masyarakat mereka bilang anarkis, marah-marah, tapi kalau anak, menantu, suami menjadi pemabuk tak rela juga, marah-marah juga. Lho? Punya pendirian kok gak jelas. Plin-plan.

Kalau mereka mendukung pabrik dan toko miras, seharusnya kan bahagia dan jingkrak-jingkrak gembira bila punya anak, suami/istri dan menantu pemabuk. Betul kan? Mestinya bahagia dan gembira dong bila hal yang mereka dukung sudah dilaksanakan oleh anak, suami dan menantu. Kalau perlu anak dan suami/istri mereka suguhi miras tiap sarapan pagi. Teler bareng sekeluarga tiap hari. Tapi, ini kok tidak. Aneh kan mendukung miras, tapi justru marah-marah kalau anak, menantu dan suami/istri sendiri pemabuk. Tidak jelas. Biarlah anak, menantu dan suami/istri orang lain saja yang mabuk. Kalau keluargaku jangan. Lho? Egois amat, mau enaknya sendiri.

True Story. Di Malang ada pabrik miras merek "Topi Miring", di labelnya ada gambar pria keren dengan topi koboi yang memakainya agak miring ala tahun 45. Peredarannya di Jatim puluhan ribu botol per bulan atau mungkin lebih. Tiap bulan Kapolsek setempat dan anak buahnya rutin sowan ke pabrik. Kapolsek dapat jatah Rp 200 juta, anak buahnya dapat jatah sesuai pangkat masing. Pegawai di situ bergosip tiap bulan: “hei hei lihat, Pak Kapolsek beri hormat ke pemilik pabrik”. Iya, habis dapat jatah lalu beri tabik ke bos pabrik, persis seperti kalau memberi hormat ke atasannya. Siap bos! Pegawai pabrik sendiri yang cerita. Itu hampir sewindu yang lalu, tapi tentu masih berlangsung sampai sekarang dan mungkin jatahnya sudah meningkat dobel menjadi Rp 450 juta. Dan tentu saja bukan cuma di Malang, kisah semacam ini ada dimana-mana di seluruh Indonesia.

Nah, sekarang sering ada yang bilang: mau jadi apa negara kita kalau masyarakat dibiarkan anarkis menyegel sendiri pabrik dan toko miras? Saya hanya bisa bilang: ini orang bodoh atau miring? Dia berharap aparat resmi yang dapat jatah Rp 200 juta per bulan itu yang menutup pabrik. Seperti tidak tahu saja keadaan aparat keamanan resmi di negara kita.

Bahan miras itu sangat murah kata peramunya, cuma air, alkohol dan perasa buatan. Tentu di label lalu dicantumkan beragam nama zat ilmiah yang ruwet, ingredient palsunya. Dengan bahan baku cuma begitu bisa dijual dengan harga sangat tinggi. Untung luar biasa besar, bisa untuk menyuap kemana-mana. Jadi, jangan harap bisa ditutup dengan resmi.

Lihat berita ini: Bahan Pewarna Minuman Keras Itu Adalah Minyak Rem. Harga tokonya Rp 45 ribu. Fantastis bukan? Sepuluh kali lipat sebotol Coca Cola. Padahal, isinya cuma air, alkohol, perasa dan minyak rem. Sangat besar untungnya sehingga sulit dibasmi aparat kita yang korup. Ini pun baru digerebek polisi karena laporan dari sesama pedagang miras yang resmi memberi upeti rutin. Yang palsu dan digerebek ini tentu cuma pucuk gunung es. Lainnya masih beredar luas. Berapa miliar rupiah dibuang sia-sia masyarakat kita untuk membeli sampah semacam itu. Betul-betul sampah, lihat saja kandungannya. Ada yang masih berminat mendukung?

Berapa harga rata-rata buah-buahan sekilo, susu seliter, atau makanan minuman yang bergizi? Jauh lebih murah. Tapi, orang-orang itu malah memilih membeli sampah. Dan mereka bukan orang-orang kaya, tapi anak sekolah, mahasiswa, pengangguran dan sejenisnya. Sudah uang cuma secuil, malah dihambur-hamburkan pula untuk beli sampah. Anehnya, kalau pabrik sampah itu diserbu masyarakat banyak orang dungu yang protes. Masyarakat itu jauh lebih cerdas karena mereka tak ingin anak-anak, menantu dan saudaranya membeli sampah. Sampah yang berbahaya. Lihat beberapa berita di bawah ini:

1. Pesta Miras Oplosan, 4 Tewas, 5 Opname http://kom.ps/6J1O   
2. Miras Picu Pembunuhan di Abepura http://kom.ps/6Dtp   
3. 80 Orang Tewas Akibat Minuman Oplosan http://kom.ps/2M6c  

Apalagi, sering pula orang-orang itu kalau sedang tak punya uang lalu memalak siapa saja untuk membeli miras. Dan sedihnya, walau kita kadang memberi uang dengan niat beramal ke pengamen di jalan atau buskota, sebagian uang itu malah untuk beli sampah. Bukan untuk membeli makanan saja seperti yang mereka bilang ke penumpang. Juga untuk beli rokok yang per bungkus Rp 12 ribu. Inilah yang namanya memiara kemiskinan. Makan di warteg cukup Rp 8 ribu sudah kenyang. Miras sebotol Rp 45 ribu, rokok sebungkus Rp 12 ribu. Lebih banyak uang habis untuk miras dan rokok ketimbang untuk makan.

Bagaimana pun, ada juga sebagian orang yang bekerja di tempat-tempat maksiat dan pabrik miras karena terpaksa. Tak ada pekerjaan lain. Padahal, mereka di rumah taat beragama. 

Kebetulan saya dulu pernah juga diajak seseorang meninjau tempat semacam itu, dia orang baik-baik dan taat beragama, cuma kerjanya memang terkait dengan tempat seperti itu. Di sana ada panggung hiburan dan  bar. Ada miras seharga ratusan ribu per botol. Nah, yang paling menarik ada semacam "showroom", etalase untuk memajang cewek-cewek. Saat itu pagi hari. Tak ada yang mejeng di showroom tentunya. Cewek-ceweknya banyak yang masih molor, sedang berdandan atau lainnya. Saya cuma melihat-lihat saja. Tidak lalu pesan isi showroom. Waduh, gawwaat.. Kena AIDS piye? Lagian, pagi-pagi begitu mereka masih kecapekan setelah "bekerja keras" semalam suntuk.

Urusan selesai pulang. Sewaktu pulang yang mengajak saya tadi bilang: wah, pengunjung disana orang gendeng-gendeng, ratusan ribu duit mereka habiskan dalam semalam. Dia cowok juga. Memang tak semua pria tertarik dengan "cewek showroom". Banyak juga yang ogah, dan untunglah saya termasuk yang ogah. Kalau tidak saya mungkin sudah menginap di showroom tadi. Tak mau pulang. Hahaha… Beberapa teman SMA saya dulu yang bandel dan hobi mabuk-mabukan juga ogah. Walau kadang diajak teman-temannya yang sesama anak bandel ke tempat begituan, mereka tak mau. Bila pun terpaksa ikut, sesampai ditempatnya ya cuma nongkrong melihat-lihat saja. Mereka bukan homo tentu saja, lha sekarang mereka sudah menikah dan punya anak, kok.

Aneh? Tidak juga. Perbandingannya, bagi Anda yang cewek apakah Anda ada yang tertarik dengan gigolo? Ada yang iya, tapi banyak juga yang ogah. Semacam itulah. Perbandingan yang cukup bisa dipahami kaum cewek bukan?

Tentu saja, penggerebekan pabrik miras dan tempat-tempat maksiat itu sendiri bila dipandang dari sudut hukum memang pelanggaran, tetapi di tengah aparat yang korup dan tak bisa menegakkan hukum, bahkan menjadi pelanggar hukum itu sendiri, masyarakat pun akhirnya terpaksa membuat vigilante. Mau bagaimana lagi? Jadi, hukum harus ditegakkan dulu bila ingin tak ada vigilante semacam itu.

Sedikit update: Peristiwa Cebongan kemarin juga menandakan bahkan aparat keamanan sendiri pun sudah kehilangan kepercayaan kepada aparat penegak hukum. Karena melihat kasus-kasus yang ada sebelumnya. Preman yang diserbu di Cebongan itu adalah seorang residivis, pembunuh dan pemerkosa, yang sebelumnya cuma dihukum beberapa tahun lalu dilepas lagi. Dan kemudian membunuh lagi. Kebetulan kali ini yang dibunuh anggota militer. Kalau korbannya masyarakat umum biasa, mungkin dia akan dihukum ringan lagi, setelah keluar membunuh orang lagi. Itulah sebabnya kepercayaan kepada hukum di sini sangat rendah, bahkan aparat keamanan sendiri pun tak percaya kepada hukum. Kacau deh negara. Kalau aparat keamanan saja tak percaya dengan hukum, lalu bagaimana masyarakat kita suruh untuk percaya? Vigilante pun lalu hadir, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil. Tugas besar yang mesti kita selesaikan bersama.

Jakarta, 29 sep – 1 Okt 2012
 
Copyright © 2010 StPiningit Blog | Design : Noyod.Com