RSS
Container Icon

Pertumbuhan Ekonomi?

Oleh: Helmi Junaidi





Saya tak tahu cara orang menghitung pertumbuhan ekonomi. Seringkali dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi telah mencapai sekian persen, tetapi kenyatan di lapangan tak menunjukkan perubahan apa-apa. Tak ada peningkatan taraf ekonomi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Jadi, agaknya itu hanya perhitungan di atas kertas saja. Selain itu, juga tak perlu jelas ekonomi siapakah yang tumbuh sekian persen itu. Apakah itu taraf ekonomi mereka yang tunjangannya bisa mencapai puluhan bahan ratusan juta rupiah? Apakah itu taraf ekonomi mereka yang habis menerima “hibah” money politic dan mereka yang gemar menaikkan gajinya sendiri? Ataukah itu taraf ekonomi para buruh pabrik, pegawai kecil, nelayan dan buruh tani? Bila golongan yang pertama tentu taraf  pertumbuhan ekonomi mereka sangat pesat. Bukan hanya mencapai 3-5 persen saja, tetapi boleh jadi mencapai 200-300 persen. Sedangkan golongan kedua bisa jadi “pertumbuhan ekonomi” mereka mencapai minus 20-30 persen. Jadi cukup “pesat” juga.

Kita seharusnya tidak lagi menghitung pertumbuhan ekonomi dengan perhitungan abstrak seperti itu, tetapi dengan cara menunjuk kepada data-data riil di lapangan. Kita seharusnya menghitung berapa persenkah kenaikan UMR dan gaji pegawai kecil dipotong angka inflasi? Berapa persenkah kenaikan pendapatan petani dan nelayan tahun ini? Juga berapa juta lapangan kerja baru yang telah bisa diciptakan dan apakah lapangan kerja baru tersebut bisa memenuhi standar gaji untuk hidup yang layak? Angka-angka itulah yang seharusnya kita jadikan indikator pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kita sebaiknya juga tidak menghitung pendapatan per kapita secara pukul rata, tetapi membaginya berdasarkan tingkat ekonomi masyarakat. Di  negara-begara yang gap-nya tidak terlalu lebar cara pukul rata ini memang bisa dilakukan, tetapi bagi yang gap-nya sangat lebar, seperti juga di Indonesia, cara seperti itu rasanya tidak bisa dilakukan karena kita tidak bisa mengetahui pendapatan per kapita rakyat --sebagian besar rakyat-- yang sesungguhnya. Dengan membaginya berdasarkan beberapa tingkatan pendapatan, maka kita akan mengetahui berapa besar pendapatan per kapita yang sesungguhnya dari sebagian besar masyarakat sehingga kita bisa lebih mudah menghitung untuk kemudian mengupayakan perbaikannya.

Yogyakarta, 2001

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS